Maaf Tuhan, kalau aku menjadi hamba yang terlalu banyak meminta. Mohon ampun juga karena aku kurang bersyukur dan hobi menambah masalah dalam hidupku. Tuhan pasti tahu apa yang ingin kubicarakan dalam suratku ini, kan? Ya, tentang kekasihku.
Aku sudah menjalani hubungan dengannya selama beberapa bulan ini. Tidak, selama setahun lebih, karena sejak aku mengenalnya ia sudah menjadi pendampingku yang setia. Menjadi sahabatku dan mendengar keluh kesahku. Hingga ada waktu bagi kami untuk berpisah sementara, dan aku pun berhenti berharap saat itu.
Namun, Tuhan, Engkau mempertemukan kami kembali di tahun baru 2008 ini, di saat kami telah siap dan menghilangkan prasangka sehingga dapat bertemu dalam keadaan netral. Dan seiring bergulirnya waktu, Engkau tumbuhkan bibit-bibit kasih di hati kami.
Suka duka perjalanan kasih yang kami lalui, bukanlah masalah besar, namun justru tempaan untuk mengasah kekuatan cinta kami.
Tetapi, tibalah saat untuk berhenti, Tuhan. Engkau telah menegurku, bahwa terdapat jurang kecil di antara kami. Saat ini, jika kami erat bergandengan tangan, jurang kecil di antara kami tak dapat mengganggu. Tapi nanti, ketika kami semakin dewasa dan harus membuat keputusan sulit, bukankah jurang sempit itu akan melebar sehingga gandengan tangan kami terpaksa terentang. Dan tatkala kelebarannya sudah tak tertahankan, ikatan tangan kami pun terceraikan.
Sungguh aku tidak ingin merasakan kesakitan itu, dan Engkau telah memperingatkanku.
Pantaskah aku menggugatMu, bertanya padaMu demikian, yaitu mengapakah Engkau mesti mempertemukan kami jika akhirnya begini?
Sungguh kelancanganku ini demi dirinya Tuhan, demi kekasihku yang hatinya sakit. Aku tahu ia begitu tulus padaku, dan aku juga tak dapat membohongi hatiku aku menaruh harapan padanya. Namun cintaku kepadaMu menuntutku memilih, dan beginilah aku, sebagai seorang manusia biasa, mengikuti kehendakMu, memikul salibku sendiri.
Aku berharap, Tuhan, karuniakanlah jodoh yang pantas baginya dan bagiku, sehingga hanya kebahagiaannyalah yang dapat menghiburku di sela tangis teredamku akan cinta yang tak pernah padam ini.
Dan, sungguh diriku lancang dan tak tahu malu di hadapanMu, izinkan aku memohonkan hal ini :
jika ia memang jodohku, Tuhan, mohon persatukanlah aku dengannya dalam ikatan perkawinan yang suci seturut rencana dan kehendakMu.
Aku menunggu jawabanMu, Tuhan. Amin.
DIarsipkan di bawah: deep inside
Pertama kali aku melihatmu, kurang lebih setahun yang lalu, hatiku telah tertawan dengan keindahan senyummu. Melihatmu bercerita dengan penuh semangat, mendengarkan segala keluh kesahmu…Pada saat itu aku bertekad untuk menjadi seorang lelaki yang akan menjagamu, melindungimu, tempat curahan air matamu, biar habis sudah semua kesedihan di hatimu, biar kugantikan dengan kebahagiaan dan senyuman, biar kulimpahi hatimu itu dengan cinta dan kasih sayang…
MoChuisle..kupanggil engkau dengan sebutan itu, karena aku berharap cinta itu akan terus mengalir didalam tubuhku, bersatu didalam diriku bagai badan dengan nyawa..
Telah jauh aku berjalan untuk memperjuangkan cinta ini, berharap dapat berdampingan denganmu, berkhidmat kepadamu, menemanimu di setiap langkah-langkah hidupmu…Tetapi engkau telah memutuskan, engkau takut akan menanggung resiko di masa depan yang bahkan kita sendiri tidak tahu seperti apa masa depan itu kelak. Kau melihat permasalahan yang menimpa orang lain yang padahal masalah itu belum tentu akan menimpa kita juga. Percayalah bahwa masa depan itu dibentuk dari usaha&doa kita pada hari ini dan apa yang ditimpakan kepada orang lain belum tentu akan ditimpakan kepada kita pula..
Sudah bulatkah keputusanmu terhadapku? Tidak dapatkah kau menerima kembali uluran tanganku? Jika kau telah melepaskanku maka sudah tidak ada lagi yang bisa aku harapkan, tidak ada lagi yg bisa aku impikan. Tertutup sudah pintu cita-citaku disini..Apalagi yang bisa aku kejar? Apalagi yang bisa aku perjuangkan? Selesailah semuanya disini..di Semarang ini. Maka aku akan berangkat, meninggalkan semua kenangan disini..Pada purnama berikutnya aku akan pergi..
Tolong jangan pernah lupakan aku..Kenanglah ketika kau ke kampus..ingatlah bahwa disitu dulu pernah menunggu seorang lelaki yg mencintaimu, lelaki yang hatinya akan sangat bahagia walau hanya dapat melihatmu sekilas sedang menunggu bis..Kenanglah ketika kau Kempo..ingatlah bahwa disitu dulu pernah ada seorang sempai yang menggodamu, berharap dapat membuatmu tersenyum, yg kemudian kau panggil dia dg sebutan ‘abang’..Kenanglah semuanya..karena bila kita sudah tidak bersama lagi, kelak hanya lewat kenanganlah diriku dapat hadir menemuimu…Kenangan akan dirimu adalah umur keduaku.
Jangan pernah takut menghadapi cinta..karena Allah yg menjadikan matahari dan memberinya cahaya, Allah yg menjadikan bunga dan memberinya wangi, Allah yg menjadikan tubuh dan memberinya nyawa, maka Allah pulalah yg menjadikan hati dan memberinya cinta…Itulah nikmat yg diberikanNya kepada makhlukNya, peliharalah nikmat itu supaya jangan dicabutNya kembali. Cinta itu adalah iradat, titipan Ilahi yg harus dipelihara dg sebaik-baiknya.
Ya Allah yg maha mengetahui, yg maha mendengar dan yg maha mengabulkan, yg maha lembut terhadap setiap hambaNya..perkenankanlah hambaMu ini memohon :
Ya Allah..bila cinta itu suatu dosa , maka ampunilah dan maafkanlah aku. Hamba akan menuruti perintahMu, hamba tak akan melanggar laranganMu, hamba tak akan menghentikan suruhanMu. Akan hamba simpan cinta ini sedalam-dalamnya…Akan tetapi bila cinta itu adalah anugerahMu, titipanMu yang harus aku jaga dan pelihara maka tolong perkenankanlah aku untuk merengkuhnya, memilikinya, untuk bersatu dengannya. Biar kujalanali segala perih dan lukanya, biar kulalui segala onak dan durinya…Ya Allah, hamba percaya bahwa tiada yg mampu mencegah apa yg Kau beri dan tiada yg mampu memberi apa yg Kau cegah. Tiada yg mampu menolak keputusanMu, Engkaulah yg maha berkehendak dan apa yg Kau kehendaki pasti akan terjadi..