Mukjizat Itu Ada Setiap Hari


Kebanyakan dari kita menganggap mukjizat adalah sesuatu yang besar-besar. Misalnya orang lumpuh tahu-tahu berjalan, orang buta melihat, dan orang mati hidup kembali. Namun penyelenggaraan Allah dalam hidup kita tidak melulu seperti itu. Mukjizat itu ada setiap hari, tiap detik, tiap helaan nafas kita. Banyak yang meremehkan fakta bahwa anugerah udara napas kita itu adalah mukjizat. Kita bernapas normal satu menit lebih kurang 20 kali. Satu jam 1200 kali. Satu hari 28800 kali. Jika dalam satu jam saja Allah lupa memberi udara dengan komposisi 79% NO2 dan 21% O2, seluruh umat manusia bisa punah.

Saya akan sharing suatu pengalaman unik, mungkin dianggap remeh, namun terjadi dua hari berturutan.

Peristiwa pertama terjadi hari Kamis. Waktu itu saya beli makanan berkuah buat makan malam. Saya ngekos, dan dekat kos ada pujasera jual rawon. Karena harganya lumayan murah saya beli dibungkus plastik. Dalam tas plastik kresek hitam ada dua bungkusan : nasi dan kuah rawon. Nasi dibungkus di kertas coklat dengan dua steples. Kuah rawon di plastik bening. Nah saya tuang dan campur di rantang. Saya terbiasa makan sampai bersih termasuk menghabiskan kuah makanan. Ketika suapan terakhir hendak saya sendok, saya sungguh terkejut bukan main waktu mendapati satu steples dengan ujung terbuka di dasar rantang saya hampir tersendok. Bayangkan kalau steples itu sampai tertelan, karena biasanya orang menelan kuah tidak mengunyah, sehingga kemungkinan steples itu berkemeletukan di gigi kecil, langsung masuk kerongkongan. Saya langsung menyebut, “Puji Tuhan!”

Mungkin orang lain menganggap, halah cuma steples kecil, nggak tertelan pula. Kok membesar-besarkan. Tetapi bagi saya besar maknanya. Tuhan berkarya dalam hal kecil-kecil ini. Kalau Tuhan tidak hendak menyelamatkan saya, mungkin steples itu tertelan, nyangkut di kerongkongan dan mengakibatkan luka. Mungkin masuk usus saya, dll kemungkinan yang menyebabkan kegawatan lebih lanjut. Dalam hal sekecil steples, Allah berkarya menyelamatkan. Inilah mukjizat hari itu.

Peristiwa kedua terjadi hari Jumat. Di kelas waktu kuliah, tas ransel saya taruh di meja. Waktu saya mengeluarkan HP, resleting saku depan tidak saya tutup, biar mudah mengembalikan HP nantinya. Tak tahunya, teman yang duduk di sebelah samping depan saya menegur dompet saya jatuh. Benar saja, karena lupa menutup resleting, dompet yang ada di saku depan ikut nongol keluar saat tas agak miring. Ketika tas bergeser, dompet terjatuh. Di dalam dompet ada segala macam kartu identitas dan uang yang jumlahnya tidak sedikit untuk biaya hidup di kos. Dalam hati saya menyebut “Puji Tuhan!” lagi. Inilah mukjizat hari itu.

Karya penyelamatan dari hal-hal kecil ini membuat saya tersadar, bahwa manusia zaman sekarang adalah manusia pragmatis, butuh pertanda. Tidak dapat diyakinkan bila tak dapat pertanda berupa mukjizat. Suatu pernyataan kontradiktif di tengah masyarakat serba rasional. Inilah tanda kemunduran peradaban : manusia mengagungkan kejayaan rasio mereka, mencari jawaban dengan akal dan pikiran mereka, namun menyerah karena tak mampu mengungguli kreasi Sang Pencipta, akhirnya meminta tolong pada kekuatan supranatural yang transenden.

Sebuah ironi di mana manusia secara kodrati membutuhkan kekuatan Yang Maha di luar mereka, betapa pun majunya ilmu teknologi.

Mukjizat pun dicari jutaan orang dari berbagai agama dan aliran kepercayaan. Melalui berbagai upacara agama, misalnya dalam Kristiani ada ibadat penyembuhan. Memang kita akan takjub besarnya kuasa Allah di mana orang-orang berbalik kondisinya 180 derajat. Namun yang saya takutkan dari gejala ini adalah tren mencari mukjizat, di mana orang akan mengakui dan menyembah eksistensi Tuhan Allah hanya dari mujizat penyembuhan, pertobatan, pengusiran setan, dll. Orang rasional memang mudah digentarkan dengan peristiwa irasional, dan berbondong-bondong akan bertobat atau semakin khusyuk menyembah Allah dengan melihat atau mengalami mukjizat semacam itu.

Namun iman macam apakah itu? Tentu saja iman yang lahir dan tumbuh di dunia kapitalis, yang berbalik hampir selingkaran penuh seperti zaman purba dulu, yaitu iman yang dikuatkan oleh peristiwa supranatural. Inilah yang mesti kita takutkan, yaitu jika ada peristiwa lain supranatural non-Allah (maksudnya rekayasa campur tangan manusia), orang yang imannya semacam ini akan mudah dibelokkan. Seperti dinubuatkan oleh Yesus sendiri dalam Lukas 17 : 22-23

Dan Ia berkata kepada murid-muridNya : “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu : Lihat, ia ada di sana; lihat ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut.

Saya tidak menganggap peristiwa itu kebetulan apalagi cuma untung (Jawa : beja). Allah berkarya tiap hari, dalam tiap helaan nafas, dalam tiap detik umur kita. Maranatha!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s