Sup Iga


Nah, masih di Pujasera Sirojudin. Berseberangan dengan warung yang jual rawon, warung yang ini bisa dibilang jadi pujasera sendiri. Habis lengkap banget, sih, mulai dari nasgor , penyet, juice, pancake, sup, dll. Nasgornya aja dari berbagai negara lho, masa ada nasgor hongkong, singapore, chinese food, hehehe…

Nah berhubung ada menu iga-igaan (ini favoritku selain seafood), aku nyoba dong. Nah, setelah dicoba tuh ternyata kuahnya gurih banget dan kental, kaya sup buntut yang biasanya jadi teman ayam goreng. Isinya ada wortel, kentang, dan daun bawang. Plus iganya sendiri tentunya.

Zannenagara (Jpn : sayang sekali -red.), dagingnya dikiiit…banyak lemaknya. Aku bingung dong, ini iga apa buntut? Daging iga mah tebal dan banyak, kalau nggak percaya belilah ribs steak atau T-bone. Trus ini kok banyak lemaknya, ke manakah dagingnya? Apa karena saking empuknya dagingnya hancur semua (halah…) Yah sudahlah, berhubung kuahnya enak dan masih ada sisa-sisa daging di pangkal dan ujung tulang (sebenarnya membingungkan menentukan mana ujung mana pangkal tulang), ya dimakan pakai nasi tetap oke kok.

Bujetnya Rp 5500 dah pakai nasi.

sup-iga

Saran : daripada bikin sup iga, bikinlah sup daging dengan kuah yang sama. Dijamin tidak mengecewakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s