Menjadi Murid


Mengapa aku memilih menjadi murid? Karena, pertama,murid berasal dari bahasa Inggris “disciple” atau dari akar katanya discipline, artinya pengajaran dan didikan yang keras. Tuhan mendisiplin kita. Menjadi murid adalah kewajiban sebagai pengikut Kristus sang Guru. Murid tunduk dan patuh pada kehendak Guru/Rabi.
Kedua, secara awam, menjadi murid menyadarkan kita untuk selalu rendah hati. Bagaimana seorang murid dapat membanggakan diri jikalau ada seseorang yang selalu lebih cakap dibanding dirinya?
Menjadi murid juga selalu menyadarkan kita akan pentingnya mencari ilmu. Mencari ilmu dalam proses pembelajaran secara akademis maupun nonakademis adalah proses tak ternilai yang di dalamnya kita dapat mencecap manis pahit kehidupan, belajar dari kesalahan, bertemu kawan dan lawan, serta memahami tujuan hidup kita. Menjadi murid membawa kita dalam suatu kondisi untuk selalu siap belajar dan diajar. Kebanyakan mahasiswa seusia saya menganggap membaca dan mempelajari textbook dan rumus-rumus adalah suatu hal yang membosankan. Namun saya berusaha tidak mengeluh dan dan tetap setia pada track sebagai murid yaitu mempelajari ilmu-ilmu yang berguna. Dan menuntut ilmu secara akademis adalah salah satu bagiannya.
Selain itu dalam kehidupan sehari-hari seorang murid tidak lantas menjadi abai atau cuek, justru menjadikan orang banyak sebagai gurunya. Saya berprinsip saya dapat belajar apa saja dari tiap orang yang saya temui. Mulai mengenali karakter dan kebiasaan orang, kebudayaan setempat, keuletan dan kegigihan orang yang patut menjadi teladan, hingga menerapkan pengetahuan dan kecakapan sosial dalam menghadapi orang. Jangan sampai seorang murid menjadi autis sosial.
Anda yang pernah membaca novel Musashi sampai tamat pasti menyadari bahwa kiprah sang samurai tidak dimulai dalam sebulan dua bulan tapi bertahun-tahun hingga sepuluh tahun sampai akhirnya dapat menurunkan gaya sendiri yaitu Niten Ichi. Hidup pertarungannya penuh peristiwa jatuh bangun, kalah, dan dipermalukan. Tapi ia selalu setia pada gaya hidupnya sebagai rounin (samurai pengembara) yang giat menuntut ilmu. Dalam pengembaraannya ia selalu mencatat dan menggambar banyak hal dalam buku catatannya. Contohnya arsitektur puri, kebudayaan setempat, teknik bertarung para lawannya, opininya untuk berbagai macam peristiwa. Dalam prosesnya selama bertahun-tahun itulah ia menemukan berbagai gaya baru dalam berpedang dan pencapaian yang terus-menerus, kawan seperjuangan, dan relasi yang berkuasa.
Menjadi murid bagi saya sendiri adalah proses pembaharuan yang tiada akhir dan pergumulan silih-berganti sepanjang hayat.
Apakah filosofi hidup Anda? Bagikan dengan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s