Daily Life: Den Haag


Pagi yang tenang. Pk 09.00. Gadget di laptop dan BBku menunjukkan suhu (whatttt????) 7 C. Shock sejenak, dan memulai rutinitas pagi. Kutuang susu ke serealku, dan aq meluangkan waktu untuk berdoa. Kubuka tirai kamarku, menghadap balkon yang luas di atap gedung apartemenku. Nieuwstraat 9A. Good morning, world!

Kucek email dan aneka update messenger semalam di BB. Kucek facebook di laptop. Sereal mulai melunak, ini yang paling kusuka. Bukan keras, renyah, dan garing seperti kebanyakan favorit orang barat lainnya. Chocomel, susu coklat favoritku. Kucuci muka dan gosok gigi. Pagi ini terlampau dingin untuk mandi. Dan kebanyakan orang barat lain, mandi adalah rutinitas yang tidak terlalu sering dikerjakan. Aku mengikuti kebiasaan itu, mandi terlalu sering dapat membuat kulit kering. Sangat beda jauh dibandingkan gaya hidup di Semarang dulu, di mana mandi air dingin adalah kesegaran sebelum meninggalkan rumah, dan kesegaran setelah seharian bekerja penuh peluh.

Aku kembali menghadap laptop, mengecek aneka tiket dan youth hostel untuk EuroTrip, target ketigaku di Europe. Sabtu besok, negara pertama: Belgia.

Mulanya aku heran dengan kebiasaan sepi macam ini. Di Semarang, aku bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk curhat dan ngobrol dengan lusinan teman, di kampus maupun kos. Tidak pernah ada kata sepi dalam hidup. Di sini, sekadar mau curhat atau main ke rumah teman saja jauhnya minta ampun. Keluar rumah, hmm…cuaca sedang tidak bersahabat. Internet adalah senjata utama komunikasi.

Belanja groceries dan aneka keperluan sehari-hari tinggal jalan kaki saja yang dekat. Dan inilah salah satu keuntunganku tinggal di Centrum alias downtown. Sebenarnya, kota-kota di Belanda, karena tidak ada dataran tingginya maka tidak mengenal kata “uptown” dan “downtown”. Namun downtown di sini adalah downtown secara ekonomi, di mana pusat perbelanjaan dan aktivitas banyak tersebar di Centrum.

Satu-satunya kesempatanku bertemu orang adalah ketika kuliah dan jalan-jalan. Kuliahku dibagi dalam sistem blok. Mungkin beberapa di antara kalian yang pernah membaca post sebelumnya mengerti sistem perkuliahanku. Aku benar-benar terhibur kemarin waktu Award Ceremony Huygens Scholarship Programme, kami bertigabelas dari Indonesia –sama seperti ratusan beswan dari berbagai negara–diundang ke panggung untuk menerima sertifikat dari President Nuffic, lembaga yang menyediakan beasiswa ini. Benar-benar beasiswa yang prestisius dan persaingannya ketat. Efeknya, dana bulanan yang diterima pun jauh lebih besar dibandingkan beasiswa lainnya.

Oya, transportasi di sini, hmm…sangat keren. Walaupun tidak ada metro, tapi sistem tram di Belanda sangat terorganisir. Tidak semua kota ada tram-nya kok. Saya beruntung di Den Haag ada tram. Mungkin post mendatang ada section khusus untuk moda transportasi ini. Mulai dari tram sampai kereta. Karena rumah saya dekat ke 2 stasiun, Den Haag Centraal dan Holland Spoor, jadi yah bisa sering nongkrong di stasiun (jangan bayangkan seperti Hachiko duduk menunggu tuannya).

Hal yang menjadi tantangan dan hambatan di awal-awal, seperti culture shock, sulit mendapat teman, dan sulit terbiasa melakukan semuanya sendiri, sekarang sudah sangat jauh berkurang. Teman-teman baik berdatangan, asal kita mau membuka diri dan menjadi teman yang baik. Untuk urusan rumah tangga, mulai dari tandatangan kontrak rumah, settle, bersih-bersih, memasak, semuanya sendiri, justru ini menjadikan saya wanita yang tangguh dan mandiri. Pada dasarnya, saya cinta rumah dan keluarga. Rumah bukan sekadar tempat numpang tidur dan belajar, tapi adalah pusat aktivitas kita. Prinsipnya, kalau rumah nyaman dan menyenangkan, maka kegiatan saya di luar rumah akan jauh lebih mudah. Apalagi saya akan mendiami tempat ini setahun lamanya, harus dibuat se-homy dan se-cozy mungkin. Walaupun tidak ada sofa dan bantal-bantal bertebaran, tapi saya tetap merasa nyaman.

(Mau crita2 soal Giethoorn, tapi susah nyambungnya). Godaan tinggal di Centrum adalah banyak toko bertebaran. Mulai dari Mango, CK, Zara, Body Shop, apalagi toko sepatu yang keren2. Tapi, ada manfaatnya juga sih. Kita jadi tahu diskon alias sale yang sedang hot, dan jadi terbiasa membanding-bandingkan harga. Di Belanda ada yang namanya koop avond, yaitu hari berbelanja sampai malam. Maklum, yang namanya Belanda yah, toko ada jam bukanya tertentu, dan tidak sampai malam kaya mal di Indonesia. Biasanya maksimal jam 6 sore sudah pada tutup. Sepi deh. Makanya heran juga saya, kalau weekend orang-orang pada ngapain sih. Kalau kita kan ya, sukanya ke mal, jalan2 sama keluarga atau teman2, hangout. Justru toko dan mal penuh sesak kalau weekend, apalagi yang ada bioskopnya. Nah, di sini, weekend berarti toko buka setengah hari doang.

Minggu ini saya libur. Autumn break. Tiap ganti musim ada break, dan paling lama yah jelas summer. Kalau ditanya ngapain aja selama libur, berhubung habis autumn break ada presentasi project untuk blok ini, yah, hanya ke Giethoorn dan Utrecht. Terus ke Belgia.

Kegiatan saya sehari-hari kalau tidak libur sih, ke kampus, bikin project dan kuliah workshop, fitness, pulang, masak, belajar atau buat tugas, tidur. Nothing special. Dan di sini memang harus menikmati hidup tanpa terlalu banyak aktivitas seperti di Indonesia dulu. Waktu luang selalu saya manfaatkan untuk Skype dengan keluarga dan teman-teman. Mmm…tapi tergantung wifi juga. Kadang wifi apartment lagi ngambek, hasilnya lambat banget deh.

Kalau hiburannnn….mmm…ada Pathe, jaringan bioskop di Belanda. Kamu bisa pakai student card untuk dapat diskon tiketnya, atau pilih berlangganan 18e sebulan sepuasnya mau keluar-masuk nonton film. Satu hal yang perlu dicatat, di sini semuanya serba otomatis. Tiket kereta, tiket bioskop, tiket-tiket yang lain, booking hostel, isi ulang pulsa, semua bisa dilakukan online. Reservation pun bisa online. Hal ini tentunya menghemat waktu dan ongkos untuk melakukan reservasi atau booking secara non-online. Dan tentu saja, upah pegawai. Karena upah pegawai yang mahal di sini, wajar jika kantor mempekerjakan electronic slave alias para server komputer yang bekerja 24 jam nonstop sebagai ganti mas/mbak operator yang melayani fungsi yang sama di Indonesia.

Next post: about Tram and Train.

2 thoughts on “Daily Life: Den Haag

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s