From Brussel with Love: Catatan Sebuah Perjalanan


Sabtu, 23 October 2010. Perjalananku dimulai. Sesuatu yang aku impikan: Euro Trip. Keliling Eropa bukan hal mustahil bagi mahasiswi sepertiku sekarang, dengan beasiswa yang lebih dari cukup dan hidup sederhana, sisa uang dapat kutabung untuk mendukung hobi avonturirku ini.

7:15. Aku sampai di Den Haag Centraal Station. Langit masih gelap. Matahari baru akan terbit setengah jam lagi. Untunglah bagian Informatie di CS sudah siap. Aku mendekati Meneer itu, kutanyakan kereta ke Brussel spoor berapa, sambil kutunjukkan tiket online yang sudah kuprint.

Aq: Goede morgen, Meneer.

Mr: Goede morgen.

Aq: Sorry I wanna ask about Hispeed train. Which spoor is the spoor going to Brussel by this ticket?

Mr: It’s not here. The international train doesn’t depart from CS. It always departs from HS.

Aq: (mati aku) But the web states that I start from CS, not from HS.

Mr: Yes, but the international train is always from HS. Spoor 2. You can go to HS and still catch the spoor.

Dengan tergopoh2, panik, dan heboh, ku berlari keluar dan syukurlah tram 17 jurusan Weteringen yang akan membawaku ke station Holland Spoor (HS) segera datang. Tapi dilihat dari catatan waktunya tidak cukup, karena train berangkat pukul 7:21. Mampuslah daku. Kucari spoor 2 di HS, kosong. Tidak ada kereta yg siap berangkat. Aku ketinggalan kereta, pikirku. Dengan panik, aku turun ke bawah, ke papan info, dan sialnya penjaga informatie ballie tidak ada. Sial, harus langsung lihat ke papan info. Kereta tujuan Belgie yang paling dekat adalah pukul 7:35. Masih ada waktu, pikirku, maka aku bergegas ke ATM Rabobank di kampusku yang terletak di belakang HS. Pikirku supaya tidak kena charge extra sewaktu bayar di luar negeri dengan debit card.

Sampai di HS lagi, aku cek spoor 4, tujuan Belgie, sudah mau berangkat. Aku naik, duduk, dan menenangkan nafas setelah berlari-lari 15 menit terakhir ini.

Oya, tujuanku ke Brussel adalah utk silaturahmi dgn Bpk Hadiyanto, dosen Tekim, pembimbing PKM GT, ketum SRKP, dan dosen sidang penelitianku. Sekalian autumn break.

9:30  aku sampai di Brussel Centraal. Belgia di pagi hari, dingin, dengan angin menusuk kulit. Bertemu dengan Pak Hady. First destination: muter2 Centrum, alias downtownnya.

Di depan Brussel Centraal / Bruxelle Centraal

Belgia adalah negara dengan 3 bahasa utama yaitu Belanda (yg berbatasan dgn Belanda), Prancis (yang berbatasan dgn Prancis), dan Jerman (yg berbatasan dgn Jerman). Tapi mostly petunjuk arah dan aneka keterangan adalah Belanda dan Prancis. Kalo Belanda saya masih  ngerti, kalo Prancis aduuuhhh buta dah.

Di Centrum alias downtown, yang dilakukan adalah: foto2! Hehehe, toko2 jg belum buka, tapi saya sudah ngiler dari awal melihat toko cokelat di mana2. Belgia adalah surga dunianya cokelat. Chocolatier (produsen/perajin cokelat) tumplek blek di sana, dengan aneka merk terkenal. I’ll show you later about my visit to Musee Chocolate.

Di depan Grand Place

Daerah tempat saya foto ini bernama Grand Place – Grote Markt. Grote Markt kalo bahasa Belanda artinya Pasar Gede, mirip kaya yg di Jogja ya hehehe… Mmm…isinya semacam plein (daerah terbuka), dengan museum, tourism information, dan tak lupa toko2 karena pasar. Toko2nya gak kaya di Centrum Den Haag yang isinya barang2 bermerk, fashion, etc, tapi kalo di Brussel ini menjual aneka suvenir, postcard, dan most of all: paling bikin ngiler adalah chocolate and waffel. Choco dari segala merk, dan terutama yg bikin mupeng adalah Godiva, dewanya cokelat lah.

Oia, kalau di Belanda ada Keukenhoff yang penuh bunga, di Grand Place ini setiap bulan tertentu juga disulap menjadi Karpet Bunga, which means seluruh lantai Grand Place ini akan ditutupi bunga membentuk motif seperti permadani.

Grand Place-Grote Markt ini dekat sekali dgn station tadi, jadi tinggal jalan kaki. Tapi basically, sbg turis yg backpackeran (oke ga backpack si, tapi totebag), kemana2 jalan kaki it’s okay. Den Haag, Giethoorn, Utrecht udah, sekarang Brussel.

Nah cek foto berikut ini.

Menyentuh Statue

Ini adalah sebuah patung di salah satu sudut kota Brussel dekat Grand Place, dan banyak orang menyentuhnya. Kenapa? Karena ada kepercayaan bahwa yang megang patung ini suatu saat akan kembali ke Brussel. Saya ikut2an just for fun saja utk foto2, siapa tahu memang nanti ke Brussel lagi, syukur2 gratis hehehe. Tapi karena Brussel dekat Belanda ya gak masalah kalo tiap bulan mau maen ke sana, tiket kreta retour (PP) cuma 36euro koq, cukup terjangkau.

Maneken Pis

Nah kalau ini, adalah Maneken Pis. Mungkin sudah ada yg pernah denger, apakah Maneken Pis itu. Jadi urban legendnya adalah, Maneken Pis bertujuan mengabadikan jasa seorang bocah lelaki kecil. Dia mengencingi bom yang dijatuhkan di Brussel waktu perang. Tapi memang tidak ada sejarah spesifik mengenai patung ini, silakan dicek di Wikipedia tentang Maneken Pis. Nah baju si Maneken Pis ini sering digonta-ganti, kalau yang pas saya maen ini dengan kostum merahnya.

Parc de Bruxelles

Itu salah satu taman kota Brussel yang dekat dengan Palais Royal atau Koninklijk Paleis (in Dutch). Kotanya cantik penuh dengan aneka taman dan public spaces di mana orang bisa menikmati tanaman, sekadar strolling alias jalan2, atau foto2.

Palais Royal (French)/ Koninklijk Paleis (Dutch)

Nah kalau ini istana rajanya. Palais Royal dalam bhs Prancis, atau Koninklijk Paleis dalam Dutch. Ya beginilah jika dua bahasa menjadi bahasa utama, nama macam2 tempat bahkan sampai metro stop harus dalam dua bahasa hehehe.

Brussel Cathedral

Nah kalau ini Brussel Cathedral, deket Boulevard de Berlaimont-Laan. Dicapai dari Istana tadi dengan jalan kaki yang nggak jauh2 amat.

Di depan Atomium

Apa sih Atomium itu? Atomium tuh semacam museum art n technology di Brussel, bentuknya keren banget kan dari susunan molekul bulet2 gitu. Nah di tiap bulatan itu ada ruang pamer dan kita bisa masuk ke sana. Tau gak sih, bangunan ini mulai dibangun tahun 1958 dan dalam pembuatannya zero accident. Luar biasa!

Tangan2 atom yang menghubungkan bulatan2 itu adalah jembatan antarbulatan, di dalamnya adalah jalur tangga atau eskalator yang bisa kita gunakan untuk berpindah antarbulatan. Saya shock banget rasanya naik eskalator coz kesannya kaya naik secara vertikal tinggi banget, liat ke bawah rasanya tinggi n jauh, liat ke atas rasanya kaya mo jatuh (yes, kebalikannya memang, krn fobia ketinggian selalu merasa dirinya gak stabil berpijak di tempat tinggi).

Apa yg ada di dalam? Let’s see.

Di dalam Atomium

Ini salah satu contoh bagian dalam Atomium. Di dalamnya aneka penemuan dari yang teknologi sampe yang seni. Memang tdk selengkap museum Iptek nasional qt tapi bolehlah utk menampung ide/karya terbaru.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Karena kami beli tiket Atomium+MiniEurope 22,4 euro, makanya sehabis dari Atomium kami maen ke MiniEurope yang masih satu kompleks. Diiringi hujan gerimis yang mengguyur Brussel siang itu, kami mengunjungi MiniEurope, yang merupakan taman miniatur bangunan2 terkenal dari seantero Europe Union/Uni Eropa (EU). Ada miniatur Eiffel juga lho, jadi berhubung belum sempat maen ke Eiffel beneran, akhirnya ke sini aja deh hehehe. Semua dibuat dengan skala 1:25, kecuali Gunung Vesuvius dengan skala 1:1000. Keren kan hehehe… Semacam Madurodam deh, kalo Madurodam di Den Haag kan tentang miniatur bangunan2 Belanda. Kok mereka suka bikin yg mini2 ya? Jangan2 ntar saya pulang ke tanah air sudah ada MiniAsean di Jakarta hahaha, menyusul TMII. Silakan liat aneka foto saya di berbagai negara, serasa keliling Eropa ^_^. Tapi tetap menabung untuk mengunjungi negara yang sebenarnya donk hehehe.

 

Maneken Pis from Chocolate

 

Nah, selepas dari MiniEurope, kami ke Musee Chocolate, alias Museum Chocolate. Dari namanya, langsung ngiler kan? Tiket masuknya 4,5 euro utk student, 5,5 euro utk adult. Nah, di dalam, bisa dilihat sejarah datangnya cokelat, bagaimana cokelat datang ke Europe, dan aneka kerajinan cokelat. Ternyata, dari seantero Asia+Oceania, Indonesia menempati peringkat khusus, karena paling besar produksi cokelatnya yaitu 545 ton/th, sedangkan negara2 lain cuma diringkas dalam Others saja hehehe.. Dan yang paling menarik adalah akhir tur di musium, yaitu presentasi cara membuat praline oleh chocolatier (perajin cokelat). Di sini cokelat adalah seni dan tradisi. Herannya, di Indonesia yg jadi eksportir cokelat, malah tidak seantusias Eropa dalam merebut pasar coklat dunia. Padahal kalau mengolah langsung di negara kita kan added valuenya tambah. Heran deh, Eropa impor cokelat dari negara2 tropis (krn pohon cokelat hanya tumbuh di negara tropis) tapi produsen biji cokelat itu malah ga ngembangin produk cokelat. Cokelat Monggo yang katanya khas Indonesia saja adalah punya orang Prancis (pernah nonton di TV ttg acara itu).

 

 

 

 

Chocolatier sedang menjelaskan cara mencetak coklat

 

Nah di bagian akhir itu, sang chocolatier menjelaskan bahwa tekstur coklat sangat bergantung pada suhu (tempering process). Sbg seorang food engineer, saya juga pernah belajar tentang pembuatan coklat dan P&IDnya. Nah chocolatier itu menjelaskan cara mencetak coklat, cara membuat coklat yang bentuknya aneh2, trus ternyata biar atas bawah coklatnya beda, bisa dengan menangkupkan dua mould (cetakan). Untuk praline, dibuat shell-nya dulu, baru kemudian isinya. Dia menjelaskan macam2 temperatur yang dibutuhkan utk mencetak aneka cokelat. Semua dilakukan dengan tangan, bukan dgn mesin. Nah, di akhir presentasinya, dia menyodorkan baki berisi shell2 cokelat itu untuk dimakan para pengunjung. Siip deh, makan cokelat gratis hehehe. Trus di dekat pintu keluar ada yang jual cokelat yang sudah dibungkus per 200gr, naah tapi ada sampel utk cicip-mencicip gratis. Sudah tau donk karakter saya, pasti pilih yang sampel gratis hahahahha….

Tapi…saya menyempatkan diri untuk  membeli sesuatu yang selama ini cuma saya lihat di internet atau di advertising, yaitu cokelat Godiva. Merk cokelat high class paling terkenal seantero dunia. Dan saya mampir ke tokonya, yang cuma seuprit, karena memang seperti semacam kios. Ada chocolatier yang sedang menghias cokelat berbentuk labu Halloween. Btw, karena harganya  umumnya mahal2 untuk paket 200gram, akhirnya saya pilih cokelat blok yang 72%cacao + almond. Harganya cuma 3 euro hihihihi…yang penting mulut ini udah pernah dimanjakan cokelat Godiva. Rasanya, mmm…sebenernya saya lebih suka praline karena ada macam2 filling cokelat, jadi yang cokelat blok ini cuma rasa dark chocolate, cuma ada tingkatan purity yang cuma bisa dirasain lidah, beda lah cokelat mahal ma murah, bukan cuma menang merk tapi menang teknik pembuatan dan seninya.

Godiva dark chocolate

 

Nah ini dia Godiva chocolate hehehe. Oia, setelah itu kami berencana menengok markas besar Uni Eropa. As we know it, Brussel adalah ibukota Uni Eropa, nah kami mau foto2 di gedung parlemennya. At least di seberang jalan (ya iyalah kalo di gedungnya langsung diusir satpam). Nah sesampainya di sana, ada pemandangan yang aneh. Banyak polisi bertameng lengkap, water cannon, dan ketika kami menengok ke atas, ada helikopter euy. Ada demonstrasi saudara2, dan oratornya teriak2 pake megaphone gitu. Kami gak tau apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas, kalo polisi sampe bersenjata lengkap seperti itu, berarti ada tanda2 bahaya anarkis di demonstrasinya. Waduh, bisa mampus ni hehehe. Akhirnya kami gak jadi foto2 di gedung parlemen, bahkan gak brani ngambil foto demonstrasi itu.

 

Naaah, tujuan terakhir adalah Palais de Justice atau Justitiepaleis. Namun karena hujan semakin deras, malam mulai turun, dan tidak ada yang menarik di situ, akhirnya kami kembali ke Centraal Station, bersiap menunggu kereta pulang. Pak Hadi ke Leuven dan saya ke Den Haag.

Oia penasaran kan bagaimana kami jalan2 di Brussel tanpa harus jalan kaki? Kami naik metro. Apakah metro itu? Jadi karena di Den Haag tidak ada metro, saya antusias naik metro kemana2 hehehe. Kami beli ticket one day journey di ticket machine, 4,5 euro.

Tiket Metro

 

Dengan one day ticket ini, kami bisa naik metro kemana2 cuma 4,5 euro. Yah mirip2 dagretour ticket nya tram Belanda lah. Metro di Belanda cuma ada di Rotterdam. Sistemnya adalah jaringan subway bawah tanah. Jadi sebelum masuk ke daerah subway nya, kita ngejegrek dulu (mirip strippenkaart gitu) ke dalam mesin, trus ntar pintu kacanya otomatis buka. Tinggal lihat jurusan n metro stop, persis kaya tram lah, dalemnya lebih gede n jalannya lebih cepet juga. Dan yang jelas, underground. Habis naik metro dan jalan di stasiun bawah tanah, rasanya kaya di Europe banget lah (lha selama ini di mana dong brarti hehehhe…)

 

 

Note dari perjalanan ini adalah, dua kali kami bertemu local people yang ramah. Yang pertama opa2 gitu, dia bawa rombongan Asia, dan tahu2 ngajak kami ngobrol. Itu waktu kami lagi jalan kaki. Pertamanya, kami dikira orang Filipina, tapi kami luruskan kan habis itu, dan ngobrol2 bentar. Ditutup dengan: “Welcome and enjoy Brussel” waaaah…ramah pisan euy untuk ukuran orang Eropa daratan. Yang kedua, oma2 yang mendadak nyamperin kami waktu kami sedang baca rute di metro stop. Karena kami mengeluarkan peta turis, mungkin dikiranya kami nyasar. Oma itu ngajak ngobrol tapi bahasa Prancis gitu, haduuuuhhh…untung bisa English dikit2 hehehhe.

Note kedua, jangan malu tanya. Berhubung kami gak punya peta tourism destination, kami sempat mampir ke tourism information center di Grand Place.

Note ketiga, lalu lintasnya Brussel semrawut banget. Kalo di Belanda yah, kalo traffic light pedestrian udah hijau, ya kita tinggal nyebrang dan gak usah tengok2 lagi. Malah kadang kita suka nekat nyebrang pas masih merah, kalo pasti gak ada mobil yang mendekat hehehe. Tapi di Brussel nih, masa traffic light pedestrian udah hijau, eeeh masih aja ada mobil nyelonong, untung dia ngerem gitu. Gimana sih hehehehe…tapi di Europe pedestrian masih didahulukan koq, tapi tetep ati2 aja.

Note keempat, pengamennya bervariasi. Yang di Grand Place pengamennya maen biola, lagu2 Europe klasik banget gitu, wah serasa di Eropa beneran deh hahahaha. Tapi anehnya, kok di metro ya ada pengamen yah, kayak di bus Semarang aja. Tapi untungnya dia bawa akordion, jadi gak seheboh pengamen Semarang yang bawa gitar bersenar tiga heheheh… Iiih, tapi banyak pengemis. Dan satu lagi yang memiripkan metro Brussel dengan bus Semarang adalah, ada orang yang nawar2in apa gitu dibagi ke penumpang satu2, trus suru beli. Karena pengalaman dengan trayek Mangkang-Bukit Kencana semasa masih ngampus di Undip dulu dan banyak orang nawarin barang model2 gitu, saya udah tau donk, pasti nolak heheheh.

Perjalanan hari itu ditutup dengan menunggu kereta di Centraal Station, ditemani Belgian wafel hangat dan cappucino (beda ma stroopwaffelnya Belanda, yang ini lebih gede n lembut, ada isinya). Tak terasa, international train jurusan Schiphol tiba. Saatnya pulang. Saya berpamitan dengan Pak Hadiyanto, dan tepat pukul 19:22, peluit dibunyikan. Kereta Belgia ini beranjak meninggalkan stasiun, melaju makin cepat, hingga Brussel berlalu dari jarak pandang mata. Antwerp-Mechelen-Roosendal-Rotterdam-Den Haag Holland Spoor. Pukul 9:30 aku kembali menjejakkan kaki di HS, menunggu tram 17 jurusan Statenkwartier yang akan membawaku kembali ke rumah. Dinginnya udara dan angin yang menusuk kulit, 7 C, menyambutku pulang. Brussel, terima kasih atas kotamu yang cantik. Kutorehkan catatan perjalanan ini, agar suatu saat, aku bisa mengenangnya kembali melalui selembar webpage dan selusin foto. Atau…pikiran isengku menambahkan, mitos menyentuh patung itu akan benar2 membawaku kembali ke Brussel ^_^.

Tot ziens.

7 thoughts on “From Brussel with Love: Catatan Sebuah Perjalanan

  1. bis kotanya nggak spt yg jurusan jrakah-sigar bencah to?
    klu ada kesempatan bepergian lg kemanapun coba amati bgm pemerintah kotanya menata pedagang kecil/kakilima. Godbless U

    1. Hi…are u still in netherlands? HS is Hollandspoor Station, in Den Haag. The second largest station in Den Haag after Den haag Central

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s