Catatan Akhir Tahun 2010


Kutuliskan ini, untuk mengingatkanmu kembali, sahabat

Jalan-jalan di kota kelahiran tercinta yang becek, yang penuh sampah dan pedagang kakilima berjajar di trotoarnya. Aku ingat itu kembali, saat ku menyusuri jalan-jalan Den Haag yang berpavingblock dan trotoar serta jalan sepedanya bersih. Manusia dari hampir segala suku bangsa berlalu-lalang, dengan aneka mimpi tiap pagi. Dan aku berjalan, nyaris tanpa senyum, seperti mereka, demi memenuhi mimpiku dan doa orang-orang yang berharap di pundakku.

Secangkir cappuccino panas dari mesin yang membuatku melek setelah begadang, sahabat, mengingatkanku kembali akan kopi susu yang kita hirup beramai-ramai di warung tenda menemani sepiring nasi rames yang kini begitu langka dan mahal. Dan aku menghirupnya, bercakap-cakap dalam bahasa yang bukan bahasa ibuku, dengan pikiran yang terbelah.

Hirukpikuk metropolitan Den Haag, sahabat, jika kau ada di sini dan berjalan bersamaku, mungkin akan sulit mengenang kota kelahiran kita yang jauh lebih ramai, lebih pekat polusi, dan lebih tidak aman. Di sini orang berjalan dengan derap langkah yang tergesa. Wajah-wajah pucat kepagian yang biasa, menunggu kereta di stasiun. Wajah-wajah kelelahan sore yang biasa, berjajar di stasiun menunggu kereta yang membawa mereka kembali ke rumah, mungkin bukan untuk bertemu siapa-siapa yang menunggu, hanya kasur dan segepok kelelahan yang hanya disampirkan tujuh atau enam jam, untuk kemudian esok paginya disingkirkan kembali. Begitu terus setiap hari.

Di sini sahabat, uang berputar begitu mudahnya. Di sini tempat aneka kementerian dan forum internasional. Di sini tempat aneka keputusan yang dampaknya sampai ke Negara dunia ketiga diambil. Di sini orang bercakap dengan aneka bahasa yang bahkan aku tak menguasainya. Di sini aku merajut mimpi-mimpi yang tak pernah mati, akan ilmu, akan masa depan. Dan aku, salah satu dari antara robot yang berjalan, dibentuk dan dididik demi manufaktur, tanpa jiwa. Dan jiwaku, sahabat, selalu merasa sepi. Paradoks di tengah kesibukan Den Haag yang selalu riuh di jam kerja, dan masih sedikit gemerlapan di malam hari.

Di sini aku bercampur dengan aneka pemikiran, aneka gagasan dan ide, aneka bola lampu untuk terus dinyalakan dalam otakku yang sepi. Dan aku berubah, setidaknya itu yang kurasa. Waktu telah mengukir jejaknya di jalan hidup dengan roda-roda berlumur emas sekaligus lumpur. Ia adalah kereta yang tak mampu bergerak mundur. Ia adalah kereta yang membawa menuju kematian, atau kehidupan kekal. Itu saja. Dan dalam keretanya, aku belajar. Belajar eksistensialisme. Bagaimana aku hidup dan apa yang akan kulakukan dengan hidupku. Tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tentang pilihan dan kesempatan. Tentang menimbang dan melepaskan.

Di Den Haag, sahabatku, di malam-malam pekat yang jauh dari gemerlap, di malam-malam ketika aku lebih banyak berdialog dengan diriku tanpa sesiapapun mengganggu, aku memikirkan kembali hari-hari awal aku di sini. Aku memikirkan kembali masa-masa indah di hari muda kita, ketika masih kita hadapi bersama-sama. Waktu kembali, sahabatku, yang mengakhiri perjumpaan kita, di mana kereta masing-masing akan berbelok ke rel yang ditentukan. Aku sering kembali merajut kenangan dan membuatnya hidup kembali dengan bicara banyak dengan kalian yang tercinta. Tentang mimpi-mimpi masa muda kita, tentang apa kabar kalian di sana, tentang rencana hidup kalian. Dan kita saling berbagi saran. Namun sahabatku, semua tak lagi sama. Kita yang menjalani tantangan yang berbeda, didewasakan secara berbeda. Pikiran yang berbeda, dan tanggapan yang berbeda terhadap suatu masalah. Tak mengapa sahabatku, waktu sedang mencoba mendewasakan kita menurut caranya sendiri.

Ketika kulihat salju putih yang menggenangi bumi, sahabatku, apakah yang kaulihat di tanah air tercinta? Hidup tak pernah berjalan normal bagi seseorang yang selalu sendirian sepertiku. Seperti salju yang tak menetap, terbang ke mana angin berhembus membawanya. Rumahku adalah Bumi, dan atapku adalah Langit. Ratusan orang baru yang kujumpai di sini, akan bernasib sama seperti yang lain dan aku di hati mereka: beberapa hanya berlalu, beberapa meninggalkan jejak, semua tak lagi sama. Sahabatku, di mana pun kalian berada, siapa pun yang akan kalian kenal nanti, ingatlah bahwa kita pernah berjumpa, di suatu waktu yang singkat dari total usia, di sebuah ibukota propinsi di pulau Jawa. Walaupun singkat, segala yang pernah kita alami bersama, adalah sebuah anugerah, proses yang mendewasakan. Kita tidak hidup dalam masa lalu, tidak pula dalam masa depan. Maka tak berani aku meminta segalanya sama seperti dulu, saat aku kembali, karena waktu berjalan, dan orang pun berubah. Namun tak berani pula aku mengatakan selamat tinggal, sebab barangkali kita bertemu lagi.

Den Haag, musim dingin, penghujung tahun 2010

DSL

5 thoughts on “Catatan Akhir Tahun 2010

  1. Hmmm…cappucino! Love It!
    Belanda memang yg pertama kali mengimpor kopi skala besar ke Eropa dari Arab. Akhirnya berlanjut pada penanaman kopi di Jawa oleh orang Belanda.

    Thengkyu Dutchman (lhoh?!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s