Hal-hal Kecil yang Membuat Saya Kangen Indonesia (Part I)


Disclaimer: Blog post ini ditulis setelah assignment reaction kinetics, pinch technology, dan logistics saya klaar. Bukan karena kegilaan dan tingkat stress yang tinggi tapi lebih kepada bahan tulisan yang lumayan terakumulasi sejak Natal.

Well, setelah cukup lama bersikap gengsi dan sok tegar menghadapi hal-hal yang berbau-bau nostalgic, akhirnya benteng saya jebol juga. Akumulasi rasa kangen yang saya ingkari ini meningkat drastis secara eksponensial sejak liburan Natal 2010 yang lalu. Di masa liburan panjang 2 minggu itu, saya diundang untuk menginap di rumah sebuah keluarga Suriname yang saya kenal, dua malam pada hari Natal dan dua malam pada Tahun Baru, di kota kecil Nieuwerkerk aan den Ijssel, dekat Gouda. Keluarga ini sering mengunjungi Indonesia, karena masih terdapat beberapa sanak saudara yang tinggal di Kabupaten Banyumas. Orang-orang keturunan Jawa di Suriname memiliki akar sejarah yang panjang dengan kita, dengan orang-orang bersuku Jawa khususnya, yang masih menjadi WNI sampai saat ini. Izinkan saya sedikit berbicara sejarah. Pada zaman kolonialisme Belanda, para pekerja perkebunan, rodi, kuli, etc, bangsa Jawa (saat itu belum ada kata “Indonesia”) tidak hanya dipekerjakan di Hindia Belanda, namun juga di Suriname. Mungkin lazim bagi pemerintah kolonial untuk memindah-mindahkan tenaga kerja ke negara-negara jajahannya. Orang-orang desa berpendidikan rendah yang mungkin tidak dapat melawan secara terorganisir akhirnya pasrah saja diangkut dengan paksa ke negeri-negeri asing yang belum mereka ketahui. Setelah ratusan tahun berjalan, banyak orang Suriname sekarang yang menetap di Belanda, dan itulah alasan kenapa artis-artis campursari seperti Didi Kempot sering sekali manggung di sini (Belanda), karena memang ada segmen fans loyal yaitu orang-orang Suriname yang masih bisa berbahasa Jawa. Karena itulah saya lancar-lancar saja berkomunikasi dengan mereka, karena sebagai orang Jawa saya tidak hanya bisa bahasa jawa ngoko, tapi juga krama dan sedikit krama inggil. Orang Jawa Suriname jarang yang bisa bicara bahasa krama inggil, karena leluhur mereka yang dibawa ke Suriname dulu bukan dari golongan priyayi yang biasa memakai krama inggil tapi dari rakyat kebanyakan yang bicara ngoko. Oleh karena itulah mereka memuji kefasihan saya bicara krama sekalipun mereka meminta saya bicara ngoko, karena buat saya, untuk bicara dengan orang tua tetap harus pakai krama. Banyak tradisi Jawa yang masih mereka pertahankan misalnya memberi blau pada dahi bayi sebagai tolak bala. Blau itu dari bahasa Belanda, “blauw”, yang artinya biru. Secara religi, karena leluhur mereka adalah golongan abangan, jadi mereka menyebut diri mereka Islam kejawen. Namun akibat percampuran dengan banyak etnis di Suriname, misalnya orang kulit hitam, orang Belanda sendiri, orang Eropa bangsa lain, Amerika, etc, sehingga untuk hal agama menjadi beraneka warna juga.

Nah, keluarga host saya ini sering ke Indonesia. Terakhir kali ke Surabaya dan sekitarnya musim panas 2010 lalu. Pertama, saya cuma ditunjukkan video-video campursari artis yang bahkan saya tak tahu namanya. Hal ini karena artis campursari yang sering manggung sini memang relatif tidak ngetop di blantika musik Indonesia karena segmen yang sangat spesifik. Mereka cenderung jualan langsung ke target, seperti misalnya orang Suriname di Belanda, bahkan pernah ke Suriname langsung. Tugas saya waktu itu adalah “fill in the blank”, maksudnya, ada beberapa kata di lirik lagu yang oom tantenya ini tidak bisa menangkap, jadi tugas saya adalah memberitahu kata-kata itu dan apa artinya. Setelah sesi video campursari selesai, mulailah sang oom memutar video perjalanannya di Indonesia. Video wisata (dan foto di PC) mulai membakar rasa kangen saya yang teramat sangat terhadap Indonesia. Kota-kota yang divideokan itu nyaris semuanya pernah saya kunjungi. Surabaya, Gresik, Lamongan, Temanggung, Jogja.

Surabaya. Waktu di otak saya seperti flashback. Mengingat kenangan SI bersama tekim 2007. Si oom tante yang antusias menanyakan ke saya: ini apa, itu tanaman apa namanya, bagaimana menjemur cengkeh, ini kerupuk apa, ini makanan apa dan bagaimana cara membuatnya. Mulai dari bakso sampai es doger saya jelaskan satu persatu. Oom juga bercerita tentang mitos Nyi Roro Kidul, dan tugas saya bertambah selain “fill in the blank”, duta wisata, juga sekarang storyteller. Saya jawab dan jelaskan satu persatu keingintahuan host family saya tentang tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi, makanan yang mereka santap, cerita-cerita di Indonesia. Namun mereka tidak tahu, bahwa rasa rindu ini sedang menggeliat saat kata-kata mengalir keluar dari bibir saya menjadi seorang diplomat budaya.

Bebek goreng yang dibungkus kertas coklat dan daun pisang, harumnya seakan bisa tercium dari layar tivi. Bakwan malang yang mengepul di video, siomay dan es kuwud pinggir jalan yang mungkin orang Belanda jijik merasakannya, sambal terasi, mangga, tukang buah di pinggir jalan. I miss them. Jalan-jalan lebar di Surabaya, yang saya dulu pernah 2 kali menempuh Semarang-Surabaya PP dalam sehari hanya untuk pre-departure briefing di Ubaya dan mengurus visa di konsulat. Desa-desa kecil di Jawa Timur. Foto-foto oom tante ketika melihat lumpur Lapindo. Pertanyaan oom tante tentang Inul, dan kutambahkan juga bahwa Inul berasal dari Gempol, Sidoarjo. Tukang becak yang mengayuh tanpa lelah, Tunjungan Plaza, stasiun Gubeng (secanggih-canggihnya train belanda, saya kangen suasana stasiun di Indonesia). Saya kangen ketika turun dari kereta, ada bapak-bapak porter yang menawarkan bantuan, sementara di sini, bawa sendiri koper Anda. Saya juga kangen naik kereta Semarang-Surabaya, karena tiap di station Cepu dan Blora, pasti ada tukang pecel berteriak-teriak, “pecel bu, pecel pak, 7000, komplit 10ribu”. Kangen musik khas tiap stasiun, misalnya Gambang Semarang ketika di Tawang. Oia, soal Tawang, oom tante menunjukkan video mereka di Tawangmangu, padahal saudara-saudara, saya belum pernah ke Tawangmangu! Satu lagi, salah kaprah orang Jawa. Spoor di Belanda, artinya peron, atau platform, dalam bahasa Inggris. Nah, oleh orang Jawa, spoor, atau dieja sepur itu malah untuk menyebut kereta api. Padahal, bahasa Belanda kereta api sendiri adalah “trein”.

Praktis tiap menginap di rumah oom tante, saya menjadi duta wisata dengan efek yang lebih mengena dibandingkan Putri Indonesia. Saya sempat tidak tahu jawabannya ketika ditanya oom apa sih kabupaten itu, apa sih kecamatan, mengapa dibagi-bagi semacam itu. Sontak saya me-BBM teman existente saya yang dari jurusan Plano Undip. Selama di sana, tidak hanya mereka yang belajar dari saya tentang Indonesia dan tentang bahasa Jawa krama (dekat itu cedhak, bukan cepak. Cepak itu cepak-cepak, siap-siap), tapi saya juga belajar bahasa Belanda, langsung, dan mencicipi kuliner Natal yang beda dengan tradisi keluarga saya saat Natalan. Misalnya, kaastengels. Di Indonesia, kaastengels tuh bentuknya kecil-pendek dan lembut, gampang patah. Sedangkan di sini bentuknya panjang-kurus, berulir seperti untir-untir, dan tekstur nyaris seperti pastry, yaitu tipis renyah. Kemudian saya juga baru tahu bagaimana makan stokbrood atau roti tongkat, yaitu dipotong-potong dan dibelah dua untuk diberi isi dan dioven agar krokante (renyah).

Melihat video dan foto-foto itu, ingatan saya melayang ke negeri yang 17000km jauhnya di seberang laut. Melihat jalan beraspalnya yang panas, tukang becak, motor, pohon-pohon hijau, pedesaan, sawah, gunung Bromo, air terjun, komunikasi dengan warga lokal, orang-orang yang berpakaian tipis tak bersyal dan bermantel seperti di Belanda, kereta yang hobi telat namun romantis, makanan tradisional yang sekarang hanya bisa saya bayangkan sambil saya buat sendiri sedikit-sedikit, dan terutama, kulturnya yang hangat, ramah, dan…yah, begitulah. Bahan bercandaan saya, mungkin karena di Belanda jarang kena sinar matahari full seperti di negara tropis, jadi yaaaa orangnya adem-adem, dingin, suram, hehehehe…

Teman-teman, bagaimanapun orang Indonesia sendiri mencela Indonesia, bagaimanapun mereka menjelek-jelekkan pemerintah di forum internet, situs news, etc, bagaimanapun orang bilang negara rusuh, sarang teroris, semua bisa diatur, hukum hanya mainan, etc, tapi buat saya, Indonesia adalah TANAH AIR saya. Rasa kangen itu selalu ada, terlebih berkobar ketika nostalgia dalam aneka foto dan video. Orang-orang Suriname ini tertarik kepada Indonesia, tanah kelahiran leluhur mereka, walaupun mereka yang generasi sekian itu bahkan tidak dilahirkan di Indonesia. Apalagi saya, dengan rasa kangen saya yang jauh lebih besar, dengan identitas saya sebagai WNI, dengan 21 tahun hidup saya habiskan di Indonesia. Izinkan saya mencuplik satu bait dalam lagu Didi Kempot:

Ra maido sapa wong sing ora kangen

Adoh bojo pengen turu angel merem

Ra maido sapa wong sing ora trenyuh

Ra kepethuk sawetara pengen weruh

Percaya aku, lega atimu

Cah bagus, entenana tekaku. (Layang Kangen)

2 thoughts on “Hal-hal Kecil yang Membuat Saya Kangen Indonesia (Part I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s