Think Globally, Act Locally


Bukan, ini bukan tentang environmental shout. Ini tentang evaluasi yang miris dari sistem pendidikan kita dan ujung2nya generasi muda kita. Saya dan Anda. Kesadaran ini bermula ketika tadi malam pas rapat PPI kabinet diminta mengisi kuesioner soal kualitas sistem pendidikan di Indonesia. Saya tidak akan menulis apa yang saya tulis di kuesioner. Lompat saja langsung ke kualitas lulusan kita.
Jujur saja, saya tidak terlalu merasa kesulitan kuliah di sini. Mungkin permasalahan datang dari sistem perkuliahan yang berbeda dan masalah komunikasi. Komunikasi dan cara berpikir itu penting. Tidak bisa dipungkiri bahwa walaupun negara kita sudah masuk G-20, pembuat kebijakan dunia lebih terporos kepada EU dan US. Hal yang saya pelajari di sini selain chemical engineering adalah komunikasi dan the way of westerners thinking. Untuk forum internasional, mengerti hal2 semacam ini sangat penting. Kita tidak berkomunikasi dengan mereka hanya menggunakan list of vocabulary dan aneka tenses yang kita pelajari dari SD sampai kuliah. Tapi dengan cara berpikir yang sama.
For example, saya sudah diinterview banyak kali selama proses apply internship. Nah, selama interview itu, selama proses interviewer mengenali potensi saya atau menarik overview dari personality saya, tentunya ada diskusi yang terjadi. Sama seperti teman2 interview di Indonesia, tentu ada trik2 bagaimana lancar interview dan diterima. Seperti misalnya, sopan-santun, cara menjawab pertanyaan yang menjebak, etc. Ketika kita diinterview in English, tidak hanya saya harus menjawab dalam bahasa itu, tapi juga berpikir dan bersopan-santun menurut standar mereka, dan ditambah, standar Belanda, karena baik interviewer dan saya sama-sama bukan native speaker English.
Apa sih gunanya hal2 semacam ini?
Gunanya:
membantu kita luwes dalam pekerjaan. Sama seperti teman-teman yg pernah KP, tentu akhirnya sedikit mengenal budaya perusahaan dan politik kantor. Begitu juga di sini, mengerti bagaimana berkomunikasi dan mengambil informasi. Di sini memang lebih straightforward, supervisor saya pun menyarankan supaya saya jangan malu n jangan takut bertanya atau berpendapat.
melatih kita terbiasa berkomunikasi dalam banyak budaya. The world is a global village, ini kata-kata siapa maaf saya lupa, intinya, dunia semakin mengglobal sekaligus melokal. Banyak hal di masa depan akan berhubungan dengan international concern.
Mari kita melihat, 20th dari sekarang, pemimpin2 Indonesia adalah saya dan Anda. Jujur, ketika menjadi mahasiswa seperti sekarang, kita kecewa dengan pemerintah kita. Ada banyak hal yang kita ingin perbaiki ke depannya. Beberapa rekan seperjuangan memilih demonstrasi, beberapa memilih go international dengan cara masing-masing untuk mengerti pemikiran2 global, saya memilih untuk kuliah ke luar negeri. Beberapa memilih apatis.
Ketika 20th mendatang kita menjadi pemimpin2 Indonesia, saya bisa membayangkan tahun2 itu adalah tahun2 di mana banyak kebijakan nasional dipengaruhi kebijakan internasional. Sudah sejak lama memang, diskusi semacam itu, namun tentu saja akan lebih intens. Krisis ekonomi di US bisa terasa dampaknya sampai ke RI kan? Nah apalagi dekade2 mendatang. Ketika kita siap menjadi pemimpin Indonesia, kita harus siap pula merepresentasikan RI di mata internasional. Kasus FIFA dan PSSI, kasus Gayus, kasus yang dulu2 sekali Sipadan-Ligitan, cabai mahal, impor beras, etc, nah jika tidak kita persiapkan dari sekarang bagaimana berkomunikasi dengan dunia internasional, sangat dikhawatirkan nanti kita sulit untuk mengutarakan maksud baik kita kepada pemimpin2 negara lainnya. Cara berpikir dan sopan-santun yang berbeda memerlukan sikap yang berbeda pula.
Sudah beberapa bulan terakhir ini, didukung akses internet yang 54 Mbps (suoombhoooongg hehehehe), saya bisa streamingan gratis news station internasional. Alasan:
saya tidak punya TV di apartment
di Indonesia pun kalau mau nonton BBC, CNN, Al-Jazeera (enggak kalo ini, saya gak bisa bahasa Arab), UN TV, harus bayar tivi kabel. Mahal kan? Mau nonton via streaming juga melihat dari kualitas modem USB + sinyal Semarang, bikin trenyuh.
Ada banyak hal selain mendengarkan British English yang saya suka banget yang bisa saya dapatkan di sini. Misalnya nih, sekarang saya lagi nonton inquiry ke PM Tony Blair soal document Bush-Blair tentang Irak. Saya gak terlalu paham sih, nggak ngikuti dari awal, tapi kan acara2 kaya gini gak disiarin di TV di Indonesia, mengenai live debatingnya, tau2 aja hasil akhirnya. Padahal penting melihat bagaimana pejabat2 itu mempertahankan pendapat, berdebat, berlogika, etc, sehingga membantu kita sekarang atau bertahun2 lagi utk berkomunikasi dgn pemimpin2 negara2 lain.

Well, ini cuma share2 saya bagaimana saya memanfaatkan waktu di sini. Sekali lagi, bidang apapun yang Anda kerjakan sekarang, mau engineer, akuntan, prosecuter, business, etc, ingat kewajiban akan negeri yang dititipkan kepada kita sesuai pesan Bung Karno: “Kutitipkan negeri ini padamu”. Mumpung masih muda, mumpung masih banyak waktu belajar, yuk, kita persiapkan dari sekarang menjadi pemimpin2 RI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s