Simple Things that Make Me Muse over Indonesia


In Bahasa.

Disclaimer: No rights can be inferred from this blog post. The writer is of no liability over this post. So if it inspires you a lot either to laugh or to muse or even both, then it’s on your own risk deducted from your choice to read.

Enjoy anyway!

  1. Teman sekantor saya tanya, penduduk Indonesia sekitar 25 juta ya?

Saya: Ten times over. (Dalam hati: itu zaman cultuurstelsel alias tanam paksa kaleee).

My muse: RI memiliki SDM yang luar biasa berlimpah, potensi manusia yang bisa saja menjajah balik (secara budaya/teknologi) terhadap dunia, namun kita masih saja berkualitas mediocre.

  1. Teman sekantor (beda orang) komentar: I never realized how big Indonesia is. Karena di peta memang terlihat kecil dan kepulauan. Dibandingkan dengan Rusia yang merupakan suatu “big mass”, tentu saja beda.

Saya: From Jakarta the capital city to my hometown, it takes 7 hours by train.

Bahkan di Belanda, perjalanan 3 jam naik kereta aja udah bisa nyeberang dari barat ke timur. Den Haag (west) ke Enschede (east) aja kalo ga salah ga nyampe 3 jam deh. Kalo utara-selatan memang lebih lama, tapi 7 jam itu udah bisa bolak-balik loh, kalo di Indonesia kan sekali jalan. Bukan karena speed, kalo speed mah di sini asal kereta biasa juga sama aja speednya (kecuali yang hi-speed kaya Fyra/Thalys/TGV).

My muse: RI memiliki SDA yang luar biasa juga. Selama 7 jam naik kereta Jakarta-Semarang, atau 5 jam Semarang-Surabaya, begitu banyak yang bisa dieksplor. Sawah, pedesaan, etc, mungkin member memori nostalgic bagi saya, namun bukan itu saja. Ada kisah di tiap stationnya, ada kisah di tiap sawah dan desa yang kita lewati. Mengapa kota-kota kecil yang dilewati itu nggak berkembang seperti kota besar?

Pernah lewat atau mampir di station Cepu/Blora? Situasinya colonial banget. Masih ada sepeda jengki, rumah-rumah pegawai KAI yang berdesain kuno, stationnya jauh dari kesan modern. Kalau lewat situ, dijamin perasaan nostalgic itu mendera. Penulis besar Alm. Pramoedya Ananta Toer lahir dan dibesarkan (?) di Blora. Mungkin sebagian inspirasi beliau berasal dari kota itu.

  1. Percakapan dengan seorang chemical engineer di kereta semakin memperbesar motivasi saya untuk kembali. Salah satu perusahaan besar yang bermotto “look good by doing good” (saya yakin teman2 mengetahuinya), memiliki headquarter di sini, di Vlaardingen. Chemical engineer senior saya (jauh) itu memberi saya food for thought: Vlaardingen bisa menghasilkan produk dengan komposisi yang sama untuk dijual ke seluruh dunia. Namun hanya engineer Indonesia yang mengerti selera pasar Indonesia. That’s true. Tapi kembali lagi, siapa yang diuntungkan? Saya engineer, bukan pemilik saham. Kapasitas saya untuk jadi “abdi Negara” (saya benci istilah ini, karena banyak disalahartikan untuk mengeruk keuntungan pribadi belaka) ya menjadi engineer, scientist, researcher, etc. Kembali lagi ke hukum ekonomi global:

    90% uang di dunia hanya dikuasai 5-10% dari populasi.

    So? Kembali lagi, kalau masalahnya adalah perang uang dan devisa, nggak ngertilah saya. Tapi bagaimana dengan perang ide? Saya terinspirasi para engineer/scientist yang ngetop dan jadi pemimpin di luar negeri. Namun apakah kesuksesan mereka merepresentasikan bangsa kita? Menurut saya (maaf kalau terdengar sadis), itu hanyalah kesuksesan individu, bukan kesuksesan bangsa. Jadi apa yang saya perjuangkan di sini, belum dapat banyak mendorong kemajuan Indonesia karena masih individual. Di perantauan, tidak masalah orang dari bangsa apa, dari Negara mana, karena yang menentukan adalah keringatnya.

    Menulis seperti ini, semakin membuat saya merasa kecil dan tak berarti. Bagaimana satu orang hendak menimbulkan shockwave untuk mengubah negaranya?

     

    Coba kita perkecil skalanya. Orang2 sukses di Indonesia hanya segelintir. Dibandingkan dengan penduduk yang 250 juta tadi, mereka yang berjuang sebagai entrepreneur, business people, professionals, etc, dan sukses, jumlahnya mungkin belum apa2. Pertanyaan saya adalah: kalau saya pulang nanti, dari mana saya akan memulai?

     

    Orang Amerika mengenal istilah The American Dream. Saat ini mimpi saya adalah: The Indonesian Dream.

2 thoughts on “Simple Things that Make Me Muse over Indonesia

    1. Ya mari mimpi itu kita jadikan kuantitatif, jadi ga hnya 1 orang bermimpi, tp massal, krn rata2 american dream tu jadi pedoman karena jadi prevalent di US. Kalo di Indonesia orang2 merumuskan dan berpedoman pada the Indonesian dream juga jadinya keren.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s