Apa Itu Demokrasi, Apa Itu Liberalisme, dan Mengapa Tidak Boleh Dicampur dengan Pancasila


Sederhana saja saya akan menulisnya. Ini cuma berdasarkan pengalaman, pengalaman hidup di negara Barat yang berideologi sekularisme.

Demokrasi yang kita tertatih-tatih menerapkannya di Indonesia, mengapa sekarang jadi liberalisme dan serbaboleh? Esensi demokrasi yang saya tangkap di sini, di Belanda dan negara2 EU umumnya adalah: kebebasan yang dibatasi oleh kebebasan orang lain juga. Saya belajar filosofi Yunani seperti deontologi dan utilitarianisme. Deontologi yang mengacu pada kebahagiaan sebesar2nya, apakah mungkin? Bagaimana jika kebahagiaan kita membuat orang lain tidak bahagia? Bagaimanakah menilai deontologi, apakah 1 orang dengan skala kebahagiaan 10 dan 9 orang lainnya 0, atau 10 orang dengan skala kebahagiaan masing-masing 1?

Itulah yang terjadi di tanah air saya, Indonesia tercinta. Sejak 1998, atas nama reformasi dan demokrasi untuk menggugat otoriter  militeristik, Indonesia seperti lepas dari kurungan. Semua ekspresi dilepaskan. Untuk hal-hal tertentu seperti kebebasan beribadah etnis Tionghoa, memang didukung oleh salah 1 bapak bangsa negeri ini, Alm. Abdurrahman Wahid, dan tentu saja itu positif. Namun kebebasan lainnya mencari tempat, kebebasan pornografi dilegalkan atas nama ekspresi seni.

Mari kita analisis. Saya membolehkan roommate saya merokok ASALKAN di luar kamar. Saya tidak merokok dan benci asap rokok, tapi saya juga tidak boleh melarang dia merokok karena pasti susah dan bakal ribut uring2an. Nah, solusi agar kebebasan dia merokok dan kebebasan saya hidup tanpa asap rokok terpenuhi adalah dengan membuat kamar menjadi nonsmoking area. Silakan kalau dia merokok di luar, di balkon, etc. (Kalau saya bisa pindah kamar, saya akan pindah, tapi karena sudah terikat kontrak dan sudah saya bayar rumah setahun, sistemnya seperti itu, jadi euro saya akan melayang sia-sia jika saya pindah–> pelajaran nanti jika saya kontrak rumah sendiri, saya akan pilih sekamar single saya saja).

Nah, dari kasus di atas, kebebasan dia untuk merokok juga akhirnya dibatasi kebebasan saya untuk hidup tanpa asap rokok. Analogi untuk pornografi, kebebasan berekspresi itu, apakah tidak melanggar kebebasan orang lain untuk mendidik anak tanpa pornografi, untuk hidup tanpa godaan mata, etc? Jadi sekali lagi, jika sulit untuk menakar demokrasi yang kebablasan yang menjurus liberalisme ini, pakai ukuran terakhir: kebebasan orang lain.

Kasus kerusuhan agama. Saya bersikap netral dalam memandangnya. Kebebasan segolongan orang untuk mendirikan aliran, apakah tidak berbentrok dengan kebebasan pihak lain untuk mempertahankan alirannya? Dan sebaliknya, kebebasan orang untuk mempertahankan agamanya, apakah tidak berbentrok dengan kebebasan orang lain untuk meyakini apa yang diimaninya?

Saya gak minum alkohol (tentunya selain untuk Misa/Ekaristi, itu untuk alasan yang lain yang tidak dibahas di sini). Tapi saya juga menghargai kebebasan orang lain untuk minum saat party, dan mereka juga nggak boleh melanggar kebebasan saya untuk nggak minum.

Saya punya beberapa kenalan atheis. Tapi saya juga nggak akan memaksakan mereka beragama karena mereka juga memiliki kesadaran akan kebebasan saya untuk menjalankan keyakinan saya sebagai seorang Katolik.

Itulah beberapa hal kecil yang saya pelajari di Belanda ini. Saya menerima perbedaan. Saya menoleransi perbedaan. Namun saya tidak menoleransi liberalisme yang dipraktikkan di Indonesia. Saya rasa Indonesia harus belajar, belajar mempraktikkan Pancasila. Pancasila dirumuskan jauh sebelum Indonesia mengenal demokrasi. Pancasila dirumuskan oleh pemuda2 Indonesia zaman kolonialisme, yang tentunya berasal dari keragaman, suku, agama, bahasa. Para perumus tersebut tentunya sudah memperhitungkan negara yang akan mereka proklamasikan kemerdekaannya akan menjalani hidupnya dalam keragaman. Kalau tidak, pasti sudah ditentang ide itu, pasti para pendiri bangsa akan kembali ke Negara Jawa, Negara Sumatra, etc. Nah, asas dan pilar negara yang dibangun dalam keragaman sebagai basis itulah, menurut saya, paling pas untuk menjalani kehidupan berbangsa ini.

Intinya, jika Indonesia  masih setia menerapkan liberalisme kebablasan, dalam urusan apapun, atas dalih kebebasan, selamanya kasus2 di atas akan terus terjadi. Tak usahlah memikirkan regime represif militeristik, sosialistik, liberalistik, etc, kembali ke Pancasila. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung kan? Di Belanda, saya berusaha menoleransi sekularisme karena itu dasar negara mereka. Jadi kenapa ragu? Di Indonesia, kenapa tak kita gunakan dasar yang memang diciptakan untuk Indonesia, Pancasila?

6 thoughts on “Apa Itu Demokrasi, Apa Itu Liberalisme, dan Mengapa Tidak Boleh Dicampur dengan Pancasila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s