Metafora Secangkir Kopi


Serangkaian kata romantis yang menggantung di ujung bibirmu

Menjadi tak bermakna ketika kegelisahanku kuteguk kembali dalam-dalam seperti kauhirup kopimu

Jika angin sepoi dan tarian awan di senja hari selalu mendesahkan namamu di telingaku

Maka hendak bagaimana lagi aku bertarung dengan rindu?

Jika nyanyian gagak dan celotehan camar laut mengukir musim semi bertaburkan memori akan senyummu

Maka hendak bagaimana lagi aku mengeluh untuk pergi?

Jika kelopak cherry blossom meniupkan salam untuk dirimu

Maka hendak bagaimana lagi aku mesti beradu dengan haru?

Jika dansa gelombang laut bercumbu dengan pasir yang putih selalu mengajak kenangan sore hari itu

Maka hendak bagaimana lagi kutegarkan hatiku?

Dalam hening hati kita bertautan

Tanpa kata

Maka jarak dan waktu menjadi benar-benar relatif

Sebuah kepercayaan, harapan, sekaligus agoni senja

Untuk menoreh langit senja dengan uap kopi yang mengepul

Dan seulas senyum dari bibirmu

 

Den Haag, 3 April 2011

(bulan2 terakhir menjadi expat, semakin mellow)

One thought on “Metafora Secangkir Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s