Aku Merindukan…


Sebuah kenangan, tentang negeri mungil di tepi Laut Utara, hampir setengah tahun yang lalu

Sebuah negeri yang “terendam”
Negeri mungil penuh taman cantik nan hijau, dan kolam berair dingin dengan bebek-bebek berenang, sesekali menyambut remahan kue mengapung di kolam
Burung-burung camar laut yang mengetuk-ngetuk jendela kamar mungilku di pagi hari, gaduh berebut sampah dari kantung yang teledor terbuka
Kucing-kucing berbulu lebat mengintip dari jendela apartemen bertingkat
Dan tikus, ya tikus mungil yang membuat heboh penghuni kamar mungil itu

Aku selalu merindukan negaraku sekarang agar
Memiliki jalur sepeda yang dicat merah di tepi jalan, dan tak dirampas pengguna mobil selayaknya jalur busway
Memiliki pedestrian sidewalk yang aman, rapi, dan teduh, sehingga kami pejalan kaki tak harus berebutan dengan pedagang kaki lima, sepeda, sepeda motor, bahkan mobil yang naik parkir di trotoar
Kaya akan taman hijau nan cantik penuh bebek dan camar laut, atau hewan apapun khas nusantara yang dibiarkan hidup bebas di taman, agar ibukota ini tak lagi melulu menjadi rimba skyscrapper, meninggalkan lahan kosong coklat becek penuh sampah yang diinjak-injak anak kecil di perkampungan
Transportasi publik yang aman, jauh dari berita pemerkosaan penumpang wanita di angkot dan pembiusan laki-laki lugu dari desa yang merantau ke kota

Aku tahu di negeri mungil ribuan mil jauhnya dari negaraku sekarang ini, ada banyak kebebasan yang menurutku tak sepatutnya
Tapi marilah kita mencontoh apa yang sebaiknya kita contoh
Dan meninggalkan apa yang tak baik

Mengapa kita tak bisa membangun kota bebas banjir?
Mengapa kita tak bisa menghentikan anarkisme dan kekerasan publik?
Mengapa kita tak bisa melindungi anak-anak dan wanita di tempat umum maupun domestik?
Dan mengapa…negeri sekaya ini, negeri yang tanpa kekayaan rempah-rempahnya negeri mungil nan jauh di sana mungkin takkan jadi apa-apa sekarang, tak mampu menyediakan hak-hak dasar bagi warganya?

Aku merindukan di mana aku tidak dianggap aneh hanya karena datang tepat waktu
Aku merindukan di mana pendapat orang tidak perlu homogen
Aku merindukan di mana anak-anak kecilnya berani mempertahankan pendapat sekaligus berani bertanya

Satu lagi…Tuhan pencipta yang sungguh adil
Di negeri nan mungil itu, musim demi musim berganti begitu indah
Di musim dingin, salju putih berjatuhan, jalanan berlapis putih tebal, dan White Christmas benar kualami, tak lagi menjadi sekadar mimpi anak negeri tropis
Malam memanjang, siang memendek
Orang ramai berjualan oliebollen dan waffel
Di musim semi, cherry blossom mekar menggantikan gelapnya musim dingin
Udara sejuk dan berbagai warna bunga menjadi penyemangat di musim kelahiran yang baru
Di musim panas, segala macam serangga bergerak
Orang mulai kegerahan, dan aneka minuman dingin laris dijual
Strawberry, blueberry, dan cherry menjadi dessert favorit menyegarkan (bahkan menuliskannya sekarang membuat air liurku terbit)
Dan di musim gugur, angin menggila
Dedaunan menjadi melankolis dan berubah warna
Menyerahkan tenaganya kepada angin yang dengan sukarela meniupkannya ke jalan, berhamburan

Aku bingung dengan bootsku, jenis sepatu yang kusukai
Akan kuapakankah mereka di sini?
Pekerjaanku nanti juga menyuruhku memakai boots, tapi bukan boots yang sexy, melainkan boots safety
Aku juga merindukan koneksi internet yang cepat, tapi itu mungkin terkompensasi dengan hiburan murah serba ramai meriah di sini
Minggu pagi di kotaku saat ini tentulah ramai orang bersepeda dan berbelanja pasar kagetan
Sungguh berbeda dengan Minggu pagi di negeri mungil itu, di mana ketika jam setengah sepuluh pagi aku berangkat ke gereja pun, pusat kota masih amat sangat sepi, hanya aku dan beberapa orang di halte bus
Aku juga tak bisa jajan bubur ayam, cakwe, ketoprak, ketupat sayur, tahu gimbal, dan es pisang ijo sepulangnya
Jajananku waktu itu berkisar antara kentang dan es krim berbagai rasa menggoda, serta kroket dan risoles

Hei…tak terasa tepat tiga bulan kutinggalkan negara mungil tercinta itu
Dan tak perlu waktu lama bagiku menemukan kesibukan baru dalam pekerjaan
Namun berapa lama pun aku meninggalkan negara mungil itu, dan mungkin akan mengunjunginya kembali entah kapan,
Ada hal-hal yang membekas sebagai sikap hidup dan nilai-nilai yang kupelajari
Di negeri mungil nan jauh itu, setahun kuhabiskan di sana, Agustus 2010-July 2011
Banyak terima kasih, dan sampai jumpa

2 thoughts on “Aku Merindukan…

  1. aku juga rindu…
    tapi, tau nggak sih penyebab kemunduran Nusantara??!!
    bandingkan saja, ratusan tahun lalu kondisi Indonesia dengan sistem pemerintahan kerajaan yang tersohor seantero dunia sampai pedagang dari Asia jauh dan timur tengah berdatangan untuk membangun kerjasama dng Nusantara. Lihat juga sistem pemerintahan serta managementnya yg sangat bagus sampai mampu memperluas wilayah sampai menguasai wilayah asia tenggara. lalu lihat saja bangunan sisa masa lalu seperti candi borobudur dkk… bayangkan saja, di tahun 800 an (dimana semen untuk bahan bangunan baru berkembang di romawi tahun 1100-1500) nusantara sdh mampu membangun borobudur dan prambanan semegah dan sekokoh itu padahal menara pisa baru dibangun tahun 1100 an.. Lalu, lihat juga potensi Nusantara yang kaya akan seni dan culture yang pastinya dulu dibangun dan berkembang dengan edukasi kuno tetapi sangat modern, mana ada negara lain yang se cerdas Nusantara jika dikaitkan dengan perkembangan seni, budaya,bahasa. Lihat dehh paper2 internasional universitas terkemuka yang sering membahas tentang Nusantara baik dari segi seni, culture, disaster mitigation (untuk mslh volcano spt tambora en krakatoa maupun ring fire dunia) dan sayangnya paper2 buatan scientist Indonesia tentang Nusantara sangat minim. Sebenarnya Nusantara ini sangat kaya, sangat Indah dan sangat membanggakan tetapi sayangnya banyak penduduk Nusantara yang tidak pernah menyadari kekayaan Nusantara dan terlalu men-dewakan dan membanggakan kemoderenan Luar negeri sehingga muncullah sikap pesimistis terhadap kemajuan Indonesia yang memang belum modern. Mungkin kita harus belajar tentang sejarah Kejayaan Nusantara masa lalu yang maju, tersohor dan kaya raya tetapi tetap sederhana…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s