Essay on Dawn of the Planet of the Apes movie


Disclaimer: This review is based on solely my opinion and thoughts after having finished watching Planet of The Apes (original ’90s movie), Rise of The Planet of The Apes, and Dawn of the Planet of the Apes.

Setelah menonton Dawn of the Planet of the Apes, rasa tidak aman yang saya alami setelah menonton Rise of the Planet of the Apes kembali lagi. Serial planet kera ini saya klasifikasikan dalam Disturbing Movie, bukan karena sadism atau gory seperti awal kategori Disturbing Picture/Movie, melainkan karena film ini sangat “mengganggu”. Films that stick to your mind. Film yang memberi rasa tidak nyaman, menempel jauh setelah usai ditonton, dan menggelisahkan para penontonnya.

Saya tidak akan bicara mengenai sinopsis, karena esai ini saya buat untuk menuangkan alasan mengapa saya menganggap ini mengganggu. Planet of the Apes berbicara tentang pertarungan yang lebih merupakan pertarungan eksistensi manusia vs kera. Dan setelah saya menonton Dawn of the Planet of the Apes tempo hari, saya semakin merasa situasinya mirip di Indonesia.

1. Post – trauma leads to hate

Perbedaan menjadi sesuatu yang perlu dipolitisir dan dijadikan alasan untuk saling membunuh. Dulu saat SMA, dari pelajaran sosiologi saya mengenal istilah “peaceful coexistence”, atau yang dituangkan di preambule UUD 1945 sebagai “hidup berdampingan secara damai”. Dan prinsip peaceful coexistence inilah yang di Indonesia sangat mungkin untuk digesek, dimodifikasi, atau bahkan tak dihiraukan sama sekali demi eksistensi tunggal. Dalam bangsa kera, Caesar adalah sosok pemimpin yang ideal sebab dia mengalami sebagai objek kasih sayang dari manusia. Sedangkan Koba mengalami masa lalu penuh kekejaman dari manusia sehingga yang ada di otaknya adalah “ape is better than human”. Di Indonesia, begitu mudahnya orang menanamkan paham kebencian terhadap perbedaan, dan jika orang-orang yang di otaknya tumbuh subur kebencian ini nantinya berseberangan dengan kepemimpinan yang cinta damai, akan tercipta Koba-Koba baru yang memanipulasi kebenaran demi kebenciannya. Adegan Koba menembak Caesar dengan senapan dan memproklamirkan kepada bangsa kera adalah simbol bahwa orang-orang yang tertanam kebencian dalam kepalanya akan menghalalkan segala cara, termasuk membunuh, mengkudeta, dan memanipulasi rakyat agar membenci pihak yang dimaksud. Sekali rakyat telah terpengaruh kebenaran yang dimanipulasi, mobilisasi massa akan begitu mudah. Demi musuh bersama, begitu katanya.

2. Conscience leads to a clear mind, questioning the deviant

Namun, selalu ada pihak yang masih mempertanyakan aksi kebencian dan kejahatan tersebut. Para kera yang berkontak langsung dengan grup Malcolm, pinjam buku dari anaknya Malcolm, dan mengetahui betul bahwa tidak semua manusia seperti Carver yang begitu membenci kera, tidak ikut dengan rencana Koba menyerbu San Fransisco. Walaupun mereka disandera oleh Koba, bahkan Ash yang menolak membunuh manusia pun dibunuh Koba, pada akhirnya menemukan jawaban ketika Caesar kembali.

3. Unavoidable war, yet the leader resists to flee

Caesar menolak usul Malcolm untuk membawa keluarganya kembali ke hutan Muir. Caesar menyongsong perang yang tak terhindarkan dari tentara manusia. Pemimpin yang tidak bersalah, namun bersikap ksatria dan menerima risiko perang tersebut. 

Adegan yang paling  mengharukan dan paling bikin nangis, adalah ketika Caesar kembali ke rumah lamanya, dan menonton kembali video ketika dia masih kecil. Oh God, even now my tears are glimmering. See? Different upbringing brings different result.

Saya ingin Indonesia belajar dari film ini. Penindasan selama bertahun-tahun yang dialami Koba membuatnya membenci manusia for whatsoever reason, kebencian telah membutakannya. Hingga ia menembak pemimpin yang semula dihormatinya karena prinsip mereka yang berseberangan. Kebencian yang dirasakan Koba membuatnya tidak realistis lagi akan prinsip coexistence, dan dia memilih single existence. Ada pergulatan emosi yang cukup baik digambarkan di film, di mana Koba yang semula berbeda opini bertengkar mulut, beradu kelahi, dan klimaksnya adalah pembunuhan berencana terhadap Caesar. 

Saya ingin Indonesia belajar, bahwa kebencian adalah hal yang sangat berbahaya. Dalam lingkup luas, mudahnya perbedaan menimbulkan rasa benci, dan dalam konteks kekuasaan, dijadikan alat politik untuk berperang. Dalam lingkup kecil, bullying sewaktu sekolah dapat menghasilkan generasi penuh kebencian, dan entah sebesar atau separah apa efek yang ditimbulkannya ketika dewasa.

Kita butuh kasih. Kita butuh mengasihi mereka yang berbeda dari kita. Kita butuh Caesar-Caesar baru yang mengerti betul apa itu kasih karena mengalaminya sendiri. Provokator macam Koba bisa jadi  masih ada, namun selalu terbuka kesempatan untuk melahirkan Caesar-Caesar baru dalam peradaban manusia. 

Kita belum tahu akhir serial ini, karena pasti masih akan ada kelanjutannya. Namun satu hal, ketidaknyamanan yang saya rasakan setelah menonton ini semoga tersalurkan melalui esai ini. Kebencian dan penindasan yang dialami satu pihak dapat menghancurkan satu bangsa, seperti Caesar berpesan pada putranya: all Koba learns from human is only hate. 

2 thoughts on “Essay on Dawn of the Planet of the Apes movie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s