My Skincare Routine History: from Clinic-Addict to Double Cleansing-Drugstore Addict


Hampir 2 tahun lalu, saya mendaftar menjadi customer sebuah klinik kecantikan. Saya tertarik untuk berkomitmen terhadap kesehatan kulit wajah, dengan cara facial bulanan. Saat itu saya sudah bekerja dan ada penghasilan tetap, sehingga saya berpikir untuk menyisihkan sedikit dari penghasilan untuk investasi kesehatan di masa depan dengan merawat diri dari sekarang.

Pada awal facial memang terasa perih dan ruam merah tak berkurang sampai tiga hari. Namun berbulan-bulan berikutnya semuanya aman terkendali, ruam merah hanya muncul sampai sekitar tiga jam setelah facial, sehingga malam atau keesokan harinya wajah saya normal kembali. Sebetulnya fokus saya facial adalah mengurangi komedo dan jerawat. Pori-pori saya besar, dan ekstraksi menggunakan hand tool yang bisa dibeli di drugstore kurang cukup untuk mengeluarkan semua komedo. Harus seorang beautician yang mengekstrak semua agar superbersih. Well, plus perawatan dengan aneka krim dan serum.

Sampai saya membaca beberapa artikel di sebuah forum kecantikan 4 bulan yang lalu. Bahwa disinyalir beberapa klinik kecantikan mengeluarkan produk yang mengandung steroid. Memang hasilnya manjur, kulit cerah, jerawat berkurang, tapi…menyebabkan ketergantungan dan ketika konsumen stop produknya, akan timbul breakout sehingga mau nggak mau harus balik ke produk klinik. Waktu itu saya berpikir ah kan nggak apa-apa kalo ketergantungan, karena toh juga nggak mahal perawatan bulanannya, lagipula untuk membersihkan muka dan krimnya berhasil kok. Saya lebih takut breakout Tapi…naluri keibuan (ceileee) saya keluar. Saya nggak bisa menolak artikel bahwa steroid berbahaya bagi jangka panjang. Saya nggak bisa santai merasakan waswas ketergantungan. Saya memang nggak bereaksi macam alergi umum steroid (kulit menipis, pembuluh kecil keliatan, etc) tapi kok ya produknya nggak seampuh awal-awal pakai. Dan satu fakta besar yang saya coba anggap nggak apa-apa tapi apa-apa:

sebetulnya komedo saya nggak berkurang. Dia keluar dalam jumlah yang terus-menerus, sehingga tiap bulan harus diekstrak. Kulit saya berminyak terus, dan diklaim beauticiannya memang karena pori-pori besar dan kurangi makanan berminyak (which I already did, so?) dan ditawarin untuk ngurangin ukuran pori by laser (oh c’mon…another treatment?)

Terus saya coba kurangin. Yang saya biasa pakai kan krim pagi, sebum control, dan facial wash. Kalau toner sudah lama nggak pakai dan ga ngefek waktu stop, mungkin karena ya it’s just a toner. Nah saya stop facial wash, saya switch ke Biore Foam Facial Wash yang biru (pure mild) dan setelah yang biru habis, saya pakai yang pink muda (pore cleanser). Biore memang nggak pernah menimbulkan issue buat kulit saya, dan overall hasilnya pun kulit terasa bersih setelah cuci muka dan nggak kering. Dia simpel, mudah ditemukan di toko kelontong juga (di Balikpapan belum ada minimarket retail macam Indomaret/Alfamart waktu saya switch. Belakangan ini baru muncul satu Indomaret). Harga Biore pun terjangkau, ada kemasan kecil jadi cocok untuk travel, pokoknya simpel, praktis, sehat, cocok.

Jadi daily morning routine saya saat itu:

  1. Biore facial wash
  2. krim pagi dari klinik, atau sebum control, tergantung lagi berminyak banget apa ngga
  3. Banana Boat facial sunblock (ini udah dari dulu pake dan no issue, jadi keep aja nggak masalah)
  4. bedak Marcks biar ngga mengkilat

Banana Boat Sport Faces
Banana Boat Sport Faces

I worked in oilfield and workshop so no point at wearing make up hehehehe… But later on I found out that rarely wearing make up is very healthy for your skin. Make up is a corrective action to cover up your flaws, so basically what it does (although the companies claim they don’t) is to cover your face with something that can even out the skin tone and create glowing effect. That’s all. The purpose is to create healthy look complexion. Then why bother wearing tons of foundie, BB cream, powder, shimmer, eyeshadow, bronzer, concealer, highlighter everyday if you can have bright luminous and (almost) flawless everyday by having healthy skin? Healthy skin itself glows radiance. I’ll tell you how I get what I want from double cleansing method later on. So keep reading.

Nah terus (automatically switch to Bahasa wkwkwkwkw ababil just confused) saya bertekad untuk beneran lepas dari krim klinik. Jadi saya stop pemakaian krim pagi. And guess what…yes I had breakout! I didn’t even dare to take picture of my skin that time. Berminyak. Jerawatan. Komedoan juga. Cuma level jerawatan saya, syukurlah, ga yang kaya merah2 gede bernanah gitu, cukup kecil-kecil banget dan emang baru bisa diliat kalo dari deket diperhatikan. Tapi efeknya kan kulit jadi nggak smooth dan untuk makeup jadi susah. And it goes to the loop of hell: kulit bermasalah –> pake makeupnya nambah untuk menutupi flaws –> menyumbat pori –> kulit makin bermasalah, and so on and so forth -____-“

Di tengah kekalutan saya…eciaaah bahasanya…saya ke Hypermart demi beli krim yang bisa dipake. Dan saya nemuuuu SkinAqua UV protection.

SkinAqua UV protection
SkinAqua UV protection

UV moisture gel ini bikin saya tertarik karena kan saya bisa pake sekalian moisturizer, jadi ga perlu pake banana boat lagi. Tapi yang bikin saya takut nyobain adalah kandungan hyaluronic acid nya.

Entah kenapa duluuu banget waktu saya masih pake krim pagi klinik, saya pernah coba Hada Labo night cream Shirojyun (yang biru tua jar nya) dan breakout. Saya pikir sih saya alergi hyaluronic acid, tapi ada juga dugaan purging karena krimnya klinik ga cocok bersanding dengan Hada Labo. Pagi krim klinik, malam Hada Labo night cream. Dan memang saya baca di forum bahwa krim steroid kalau digabung dengan yang lain bisa bentrok efeknya. Maybe that’s why SK II has introduced this purging term because some people report their breakout purging effect. Itulah yang dulu bikin saya males nyoba SK II, bikin purging euy. Hada Labo juga. Makanya saya negative thinking ke semua produk Jepang bahwa doi bikin purging ih males banget. Hada Labo ini pun dipake cuma 3 hari lalu stop.

Tapi karena ga ada pilihan lain UV yang menarik, saya coba skin aqua. Saya tergiur dengan slogannya yang ga pake pewangi dan additive. Trus saya pake sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, seminggu, eh ga ada issue! Minggu berganti bulan (haiisssh) dan saya pun makin devoted sama SkinAqua. Saat itu berarti saya sudah stop krim klinik. Dan ajaibnya, kulit saya membaik. Breakout karena stop krim klinik berhenti setelah seminggu pake SkinAqua.

Dan dari SkinAqua, mulailah saya berani nyobain Hada Labo. Saya mikir hyaluronic acid nya ga nyebabin alergi donk, so let’s give it a try. Tertariiiik banget sama testimoni berbagai beauty blog soal Hada Labo yang manjur, dipuji karena drugstore murah tapi berkualitas, no additives/perfume (but still paraben, though), dan pabriknya di Rohto Indonesia jadi ga harus impor HL dari Jepang asli, harga bisa murah.

Saya coba lotionnya, macem toner gitu lah. Waktu itu saya sudah mulai double cleansing. Yaaa efek jejepangan juga, karena pake produk Jepang yang lotion, mulai belajar urutan cleansing dan skincare ala Jepang, yang ternyata konsepnya menarik banget. Saya pernah nonton videonya AsianBeauty Secret di Youtube tentang double cleansing. Walau makeup saya ga seekstrim si embaknya dan produk cleansingnya saya ngga suka, at least saya suka ide double cleansingnya. Jadi sequencenya adalah: cleanser — facial wash — toner. Toner semacem QC aja apakah udah bersih betul, dia mengangkat sisa residu yang ga terangkat cleanser dan facial wash. Double cleansing saya waktu itu:

  1. Viva milk cleanser. Saya suka ganti2 varian karena cocok semua. Ada yang Spirulina, Cucumber, Lemon, Bengkuang. I like them all. Very cheap and versatile.
  2. Biore facial wash. Hada Labo gokujyun facial wash. Jadi setelah biore saya habis, saya start coba HL gokujyun. Ini setelah baca banyak review bahwa yang shirojyun memang lebih sering nyebabin breakout. Gokujyun lebih gentle, ga ada pemutihnya, dan cuma hyaluronic acid. Saya juga coba tamagohada dan puas dengan hasilnya.
  3. Viva face tonic. Cocok all variant.
  4. HL gokujyun lotion.

Setelah rutin begini, banyak orang bilang complexion saya tambah bagus dan cerah (orang bilang tambah putih, tapi mungkin maksudnya cerah) padahal saya kerja di oil field. Terus jarang jerawatan kecuali at that time of the month. Komedo saya ekstrak dua hari sekali pake tisu dan tangan bersih, dan saking berkurangnya, mereka tinggal kayak krim putih keluar dari pori, udah ga segede, sekeras, dan seheboh jaman masi ikutan klinik. Menghemat banget ga ke klinik dan beli krim segambrengnya, hasil juga lebih lebih bagus, lebih sehat no steroid, bahan-bahan juga alami dan mudah didapat di drugstore.

Terus seminggu lalu saya tertarik beli The Body Shop cleansing oil camomile karena banyak reviewan bagus. Saya beli di Dubai along with my beauty haul, dan ini bagus banget. Teksturnya ga seencer (katanya) Shu Uemura atau Muji, tapi efektif banget ngangkat mascara and eyeliner waterproof. Ga bikin alergi, pokoknya cocok to the max.

So, my morning routine now is:

  1. HL facial wash gokujyun
  2. HL  lotion gokujyun
  3. SkinAqua
  4. Bedak tabur Marcks Venus

My cleansing routine:

  1. Camomile cleansing oil (for makeup) or just Viva milk cleanser (daily use if only to remove sunblock/loose powder)
  2. HL facial wash gokujyun or tamagohada at night
  3. HL lotion gokujyun
  4. Clean and Clear acne gel if have acne

Long story short, I like my complexion now, feels muuuucccch better than when I routinely went to clinic and used their creams. Super saving in budget now with satisfying result. Hmmm… I love when I touch my face after skincare, feels so supple, soft, and bouncy ^_^

Sorry for the long post. 

 

Ciao

 

 

5 thoughts on “My Skincare Routine History: from Clinic-Addict to Double Cleansing-Drugstore Addict

  1. aku juga mau nyoba hada labo mbak ,, aku beli yg starter pack shiro dan goku nya
    pengen tau yg mana yg cocok di antara 2 itu😄😄
    soalnya byk yg blg pake shiro bikin breakout tp yg gag dha masalah jd cerah dan lembab mukanya🙂

    1. Hai mba Siti Rahmah,
      Iya aq pake shiro breakout, cuma yaa ga heboh, tapi bruntusan gitu, bukan yg ada jerawat+mata. Tp aq lgsg putuskan utk stop. Pake yg goku ga ada issue sama sekali, jadi ya lanjut mpe sekarang. Suka pake biore and himalaya jg si.

  2. aku pake skin aqua kayak langsung banyak jerawat kecil gitu di muka dan sekarang muka jadi parah😦 bingung harus ganti produk apa lagi dan mulai dari mana lagi buat ngilangin jerawatnya

    1. Halo Amel Amelia…salam kenal…terima kasih atas kunjungannya. Nah, kalau muka bereaksi tertentu terhadap suatu produk, memang lebih baik untuk stop sementara mengamati reaksinya.
      Paling baik memang mengubah routine secara bertahap, jadi jika ada reaksi, bisa diamati dan disimpulkan dari produk yang manakah reaksinya.
      Skinaquanya yang UV sunscreenkah? Kalau memang sudah diisolasi problemnya memang betul dari Skinaqua, bisa mencoba cari sunscreen lain. Sunscreen itu wajib, jadi cari yang cocok.
      Demikian semoga membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s