Wanita Kerja di Rig? That’s Me!


“Mba, cewe kok mau kerja kaya gini sih?”

“Mba, ga takut kerja di rig?”

“Nanti paling kalo udah nikah ga dibolehin suamimu kerja di rig lagi.”

Etc, etc.

Well, sebagian (kalau bukan banyak) komentar yang ditujukan kepadaku sejak awal bekerja sebagai wireline field engineer di salah satu service company internasional (hint: The Big Blue🙂 )

Baiklah, untuk memahami bagaimana awal mulanya aku kecemplung di pekerjaan ini, sampai detik ini yang berarti sudah 3.5 tahun (doakan aku bisa lebih lama berkarir di oil and gas yaaaa), let the story begins…

Once upon a time, there was a young lady named Sekar, just graduated from The Hague University and Undip in a dual degree program. Baca cerita selengkapnya mengenai dual degree di post-postku sebelumnya mengenai Holland. Silakan klik tagnya di sebelah kiri.

Jadi, singkat cerita, perkenalan pertama saya di rig adalah di rig darat pada bulan November 2011, di suatu tempat di Duri (lupa nama fieldnya apa). Jadi nih sebelum sign contract dengan The Big Blue, ada yang namanya field exposure. Fungsinya untuk mengenalkan kita para new-hire alias newbie ini seperti apa sih kerjaannya nanti. Kalau ga kuat dengan exposure ini, masih bisa mundur.

Di Duri, saya ke basenya dulu, berkenalan dengan orang-orang, pakai coverall dan PPE (APD) dan di situlah saya mulai berpikir, wow, kerjaannya mechanic banget. Di situ masih relatif bersih karena di sekitaran lab dan electrical aja, sementara belum merasakan yang becek-becekan berlumpur.

Untuk ikut ke rig, kita ninggalin nomer telepon yang bisa dihubungi ke Dispatcher, sehingga ketika ada panggilan job dia akan telpon kita dan disiapkan mobil. (Note, tidak semua lokasi begini. Di Balikpapan sistemnya sangat berbeda). Saya ditelepon jam 1 pagi kalau ga salah, lalu dijemput. Memang untuk pekerjaan seperti ini, sistemnya on-call dan harus siap ditelepon kapan aja. (Note lagi, kalau di Balikpapan yang fieldnya jauh-jauh, biasa berangkat normal sehari sebelumnya, jadi on-callnya sudah di lokasinya aja. Duri kan relatif dekat antara base dengan field, jadi mau berangkat jam berapa aja bebas, kala itu sih taun 2011, kalau sekarang gimana udah ga ngerti).

Anyway, saya berangkat dengan seorang engineer dari RRC entah siapa namanya lupa (maaf ya kak), dan sampailah kami di rig. Awal saya sampai di rig, what the hell man! Gue bisa mati! (ini ga disensor, ini bener2 apa yang terpikir di benak saya waktu itu). Habis semuanya bergerak, mulai dari crane ngangkut barang, trus kalo di rig darat ada yang ngeratain jalan apa namanya, itulah pokoknya alat berat ngumpul di situ semua. Saya yang awam blum pernah liat site jadi shock. Mana jalannya becek ga jelas, lumpurnya bikin sepatu safety saya stuck, ada banyak besi-besi di mana-mana (belum kenal istilah casing)…SEREM! SPOOKY!

Waktu opcheck tool di catwalk, si engineer ini nyuruh saya naik dan saya belum biasa lompat-lompat begitu, takut juga. Padahal Cuma naik 0.75 meter tapi mesti naik-naik ke casing yang licin, takut terjepit kakiku. Sekarang mah, mau mendaki tumpukan casing dua meter pun dijabanin, asal tetap safety ya.

Serem asli. Terus ngerasa kerjanya kok gini, begadang ga jelas, logging gitu Cuma kan ya waktu itu saya belum paham apa sih itu logging jadi saya duduk aja di bangku belakang di truk dan ngeliatin si mas engineer ini klak klik dan menyebut sesuatu semacam power up.

Singkat cerita, selesailah loggingnya dan kami pulang ke base ketika sudah siang. Saya udah tepar kemanamana. Crew chief waktu itu, masih inget banget nama beliau Pak Yatirman (sempet ketemu lagi di Balikpapan waktu beliau loan/transfer), nanya asal mulanya pendidikan saya, kenapa mau ke company ini, etc. Orang-orang di rig pun cukup amazed dengan saya di rig, tapi karena di Duri ada beberapa engineer cewe dan pastinya mereka sudah lebih sering nongol di rig, mungkin orang rig Cuma amazed karena saya baru dan belum pernah dikenal di situ.

Trip kedua ngikut engineer lain namanya mas Eki. Sudah lebih aware apa yang akan dilihat. Sempet nanya-nanya masnya apa sih yang sedang diprint itu kok gulungan-gulungan (lembaran sih), isinya garis kurva tak jelas. Well, itulah yang dinamakan LOG Sekar, itu yang kita jual, kata mas Eki.

Kesan ke rig dari field exposure itu:

-bisa kejatuhan sesuatu (later on, jargonnya adalah Drop Object)

-becek belumpur

-BISING asli. Ya iyalah gimana gak bising la wong engine semua nyala pasti adalah bunyi-bunyi mesin gitu.

Bulan Februari saya sign contract dan dimulailah petualangan sebenarnya sebagai karyawan. Dan itu jauh berbeda. Karena kita trainee, tentu saja kita diperlakukan layaknya karyawan baru, disuruh-suruh ngikut senior, ngerjain ini itu, tapi ya wajar, toh kalau ga ngerjain sesuatu (later on, the jargon is “hands-on”) ya mana lulus kita jadi engineer ya kan. Trainee itu topinya hijau, sementara kalau udah jadi (later on, the jargon is “break-out” bukan breakout jerawat ya hahahaha) topinya putih. Nah kita disuruh ngerjain yang hands-on, belajar sama crew/operator, nanya ini itu. Ya biasalah anak baru ditanya-tanyain, (sok) dijutekin sama senior crew (yang later on dia akan baik ke kita kalau udah jadi). Moral of the story: you should perform to earn respect, right?

Trainee juga banyak ngerjain sesuatu, menghandle banyak hal, ngebantu engineernya di field, semata bukan karena engineernya males, tapi supaya trainee itu tau apa aja yang dilakukan dan responsibility seorang engineer sehingga ketika breakout nanti udah capable. Saya pun sebagai engineer sekarang kalo kerja dengan trainee juga saya suruh dia ini itu biar dia tau. Sempet curhat-curhatan dengan teman sesama cewek, ada 2 saat itu, dan sampai sekarang mereka masi eksis juga di base, benar-benar teman seperjuangan! Hei J & Y (kalo pengen namamu ga ditulis di blog ini), thanks for fighting along with me through ups and downs ya!

Ngeluh pastinya ada, karena kok:

  • Responsibility segede gaban. Responsibility terhadap operation safety.
  • Ikut SOP semuanya
  • Sering begadangan ga sehat (hancur sudah impian gw untuk hidup sehat bangun tidur teratur tiap hari)

But we kept fighting.

Ada sih suka dukanya di rig:

  • No personal space (ada sih kalo di rig yang saya sekamar sendirian aja karena cewe)
  • Ada yang sekamar ma cowo dan itu ya udah gw biasa aja
  • Kadang digodain (tapi ga disuitin heboh), karena ada namanya anti-sexual harrassment policy dan kalo ngelanggar ini, si pelanggar bisa sampe dipecat. Anyway, kalo kita tanggapin biasa aja, ya hilang sendiri. Toh orang juga ke rig demi bekerja juga, ngapain juga mempertaruhkan karir dan gaji demi nyuitin cewe ya kan. Intinya saling menghargai dan saya ok2 aja dengan ini.

Soal sexual harassment, orang di jalanlah jagonya. Supir angkot, supir truk lewat, orang-orang ga beretika (bisa jadi berpendidikan tapi memang mulut/nafsunya ga disekolahin) yang suka nyuitin/nglaksonin/mantengin saya kalo lagi tunggu angkot di luar. Sekarang banyakan dianter suami jadi ya ga ngalamin ginian. Tapi kalo digituin saya suka sedih dan curhat ke mantan pacar (sekarang suami) kenapa si orang di jalan begitu. Kalo kata dia ya udah diemin aja kalo ngganggu secara fisik baru lawan dan teriakin. Tapi kan saya jadi risih kalo harus nunggu angkot di jalan. Trus jadi ga bebas berpakaian karena pake yang tertutup aja diliatin apalagi kalo saya pake rok mini. Dasar para lelaki misoginis di jalan!

Nah komentar-komentar di awal post ini biasanya oleh orang-orang yang mungkin cara pandangnya masih tradisional. Bisa dari orang yang sesama kerja di rig, orang ketemu di kereta api nanya saya kerja apa dan komentar. Kalau saya responnya simpel:

  • Bersyukur tuh cowo bukan suami/bapak saya, karena bapak dan suami saya mendukung apa yang saya lakukan. Saya berjuang untuk promosi ini ya karena dukungan suami saya yang tau betul seluk beluk kerja di rig. Dia dulunya seorang shooter (tukang perforasi sumur).
  • Kesian sama istri/keluarga perempuannya karena kalo perempuan itu milih kerjaan kaya gini pasti dikomen ga jelas.
  • Kesian sama negara ini karena pemikiran kaum lelakinya masih banyak yang patrialis dan cenderung ke misoginis.

Kalau pertanyaan teman-teman cewe, malah rata-rata excited dan nanya-nanya ke saya, kesannya adventurous gitu hahaha. Padahal kalo ngerasain suka dukanya, ujan-ujanan pun masi rig up, belum lagi trouble, belum lagi NPT (non productive time = kalo tool kita problem jadi macem diitungin berapa jam lost timenya dan biasanya client udah ngamuk-ngamuk bete), belum lagi begadangnya, mungkin ga semua orang mau.

Kalo di awal recruitment emang udah dibilang ma ibu recruiternya itu, *this company* is not for everyone, pertimbangkan baik-baik. Cowo aja belum tentu masih mau lanjut abis field exposure.

Soal pertanyaan bernada meragukan perempuan di awal blog post ini, ya emang ga bisa dijawab one-on-one. Kalo yang nanya ngeliat kerja kita, ya syukurlah berarti bisa kita jawab pake bukti kerjaan. Kalo yang nanya orang lewat, ya udah jelasin seperlunya aja. Kalo yang nanya orang di rig yang oppose the idea of women working outside, ya udah biarin aja mereka berpendapat, toh kita juga ngehargain kebebasan berpendapat orang. Kita buktikan aja dengan waktu bahwa kita emang capable untuk kerja di rig.

3.5 years after my seniority date (sign contract), I’m here now, a fully professional engineer, still working on my promotion to become somebody higher. Sekarang ya masih aja kalo on-call begadang, masi begini-begini aja, tapi ada segi menariknya:

  • Bisa liat sunrise and sunset gratis tiap hari kalo di rig offshore. Orang lain bayar untuk liat sunrise/sunset di laut, eh kita liat tiap hari hahahaha
  • Ngirit anggaran makan karena di rig kan makan disediain
  • Ketemu orang-orang luar biasa, sampai tua pun pengalaman mereka udah banyak banget
  • Ketemu sesama wanita yang kerja di rig juga

Kalo suka duka kerja di rig selain tentang feminisme seperti yang dijelasin di atas ya kek gini:

Suka

  • Live life to the fullest. Kerja kan ga harus di belakang meja. Ada saatnya saya kerja di belakang meja bentar lagi.
  • Bisa training keluar negeri.
  • Ketemu orang-orang hebat karena biasanya engineer di field itu juga lulusan top dari kampus  masing-masing
  • Jadi suka banci skincare dan haircare untuk compensate efek buruk begadangan and kerja lapangan ke kecantikan
  • $$$$ hahahahaha itu yang penting

Duka

  • Mabok laut
  • Kesehatan aja, ya harus dijaga karena kita begadangan
  • High-risk environment
  • Ga bisa ketemu keluarga sesuka hati
  • Ga bisa sesering itu hadir ke nikahan temen atau event lainnya
  • Weekend di laut itu biasa
  • Kadang ga bisa ngrayain hari besar
  • Ga tiap Minggu bisa ke gereja
Sunset in Mahakam Delta
Sunset in Mahakam Delta
Malam-malam di Selat Makassar. Foto2 lampu2 barge begini ya jadi hiburan
Malam-malam di Selat Makassar. Foto2 lampu2 barge begini ya jadi hiburan

Terus banyak yang bilang enak ya kerja di migas duitnya gede. Gw dalam hati, ya ga enak juga, kalau diliat sisi positifnya ya pasti the grass is greener on the other side. Gue aja kalo mau bilang gitu, enak ya orang kerja di kantor bersih rapi wangi pulang sore dan malam bisa ketemu keluarga. Kalo di migas emang duit gede tapi kan ya kerjanya high risk banget, jadi semua sesuai preference masing-masing.

Satu hal yang menarik, pernah suatu waktu saya nganter mamah yang sedang berkunjung ke Balikpapan ke Kebunsayur pasar Inpres, beli suvenir batu-batu gitu. Nah si mamah ketemu bu lurah Semarang yang somehow ada di situ dengan rombongan kunker. Si bu lurah amazed liat saya di situ, dan lebih amazed lagi setelah dikasi tau saya kerja di Balikpapan bukan liburan. Komen si bu lurah ke mamah: “Wah ga sayang to bu anaknya tunggal kerja jauh gini.” Mamah saya bilang “Saya si malah bangga bu”. See? Even women still have traditional image about what women should do (working not far away from home, or even more, staying at home not because of her choice, but her family’s pressure).

Anyway, itu dulu sharingnya, ngantuk udah jam 1 pagi. Happy working, fellas!

*kapan-kapan saya nulis lagi soal feminisme tapi yang ada teori-teorinya. sekarang sih udah ngumpulin di note, tapi untuk compilenya nanti aja ya*

Sebuah rig di Selat Makassar,

31-Aug-2015

3 thoughts on “Wanita Kerja di Rig? That’s Me!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s