Another Personal Dream


I’d really like to write this post in English. Just wait. But actually I expect response from my readers on Bahasa first, because this post is about making a change in safety awareness level in Indonesia.

Sewaktu saya masih bekerja di Blue Army, pekerjaan saya adalah di field yaitu di rig pengeboran, baik offshore (seringnya ini) dan onshore (darat). Rig offshore itu anjungan pengeboran minyak di tengah laut atau muara sungai atau delta. Karena sekitarnya air, maka di pengeboran itu juga ada akomodasi, galley, sanitasi, kadang ada gym, etc. Nah di rig offshore atau swamp (muara/rawa-rawa) ini, untuk beberapa rig rutin mengadakan fire drill seminggu sekali. Biasanya fire drill ini diadakan di weekend, yaitu Sabtu atau Minggu, yang biasanya pagi. Fire drill itu sendiri adalah latihan tanggap bencana kebakaran.

Urutan prosedur fire drill yaitu, akan ada suara sirene alarm yang dibunyikan dari control room dan akan terdengar di seluruh bagian rig. Tipe-tipe sirene itu pun beda bunyi beda pula hazard yang sedang terjadi. Contohnya, bunyi ring ring pendek adalah kebakaran atau fire itu sendiri, bunyi nguing nguing sinusoidal itu bunyi alarm H2S (hidrogen sulfida, zat berbahaya yang bisa bikin mati lemas, umumnya di lokasi-lokasi pengeboran dari dalam bumi ini gasnya keluar), dan bunyi panjang tak putus itu untuk abandon ship drill, yaitu ketika bencana tak tertanggulangi dan kita harus meninggalkan rig. Untuk skema latihannya sih standar seperti di Navy / Marinir, yang memang sehari-hari hidup di laut jadi prosedur latihan semacam ini tentulah harus dilakukan rutin.

Jadi ada bunyi alarm, kemudian kita harus ke muster station atau muster point. Muster station itu tempat berkumpul orang. Dari situ, orang-orang yang punya kendali, misalnya tim safety (keselamatan), Tool Pusher, atau Rig Superintendent, akan menghitung jumlah orang. Bagaimana cara menghitung apakah semua personel sudah di tempat musternya?

Di sinilah digunakan sistem T-card. T-card itu semacam kartu plastik bentuknya mirip huruf  T karena bisa dicolokin ke papan berlubang-lubang untuk menampung T-card itu. Di kepala T-card ada kertas bertuliskan nama masing-masing personel on board. Ketika disuruh berkumpul ke muster station, kita ambil T-card kita, jadi personel yang belum sampai di muster station ketahuan siapa karena T-cardnya belum diambil. Beda rig beda cara, ada rig yang ga usah diambil T-cardnya, cukup dibalik aja sehingga bagian yang bernama akan menghadap belakang. T-card yang namanya masih terbaca yaitu menghadap depan, berarti orangnya belum ada di muster station.

Setelah orang terkumpul di muster station, barulah HSE guy/lady nya ngasih feedback atas drill barusan, misalnya kurang cepat, kurang segera berkumpul. Di sini kecepatan dan pengetahuan di mana muster stationnya itu SANGAT PENTING, karena kalo ada alarm beneran dan kamu nggak tahu harus ke mana untuk berkumpul untuk evakuasi, you die. As simple as that.

Nah muster station itu pun beda-beda. Untuk fire, orang berkumpul di masing-masing life boat sesuai nomor di T-cardnya. Di setiap rig offshore itu ada life boat, kalau di swamp ada life raft, gunanya sama yaitu untuk evakuasi. Sedangkan untuk H2S, muster stationnya adalah di tempat paling tinggi yang bukan menara rig tentunya, yaitu di helideck (tempat landing helikopter). Ini dikarenakan H2S kan gas yang ringan jadi bisa naik ke hidung kita, jadi kita harus ke tempat yang di atas.

Ketika kita terbiasa dengan fire drill, H2S drill, abandon drill, dan melihat ada berita kecelakaan kapal di Indonesia, yang penumpangnya banyak ga selamat, bahkan berpegang pada kaleng-kaleng kosong untuk mengapung, itu bikin miris. Kita bekerja di lingkungan yang penuh dengan safety, dan safety awareness itu juga masih saya bawa sampai sekarang, saya selalu pakai seat belt di mobil. Sedangkan banyak sekali transportasi umum di Indonesia yang kacau banget safetynya. Jika kita naik kapal umum, entah apakah jumlah life jacketnya cukup sesuai POB (personnel on board) nya atau engga.

Pas sesekali kami iseng, sedang makan di galley, saya tanyakan crew saya, apakah safety awareness itu diajarkan untuk anak-anak. Ini bermula dari saya nonton TV saat di rumah bude saya, dan TV menayangkan filmnya Arnold Schwarzenegger (maaf kalo nulis namanya salah) yang jadi terlibat dengan banyak anak-anak dan menjadi guru (kalo ga salah lagi nyelidiki salah satu ortu murid di sekolah itu). Nah pas itu ada adegan drill, ada alarm dan anak-anak keluar berbaris rapi langsung di muster stationnya yaitu halaman sekolah. Bude saya lantas berkomentar, “Di sana anak-anak kecil aja udah tau fire drill.”

Nah itu memunculkan pertanyaan di kepala saya, anak-anak di Indonesia udah belum?

Saya iseng nanyain crew saya apakah yang masa kecilnya lain kota dengan saya pernah mendapat fire drill di sekolahnya. Jawabannya nggak ada. Jadi nggak Cuma saya dong yang nggak pernah dapat fire drill ini.

Di Aceh, lain lagi ceritanya. Di sana sudah ada edukasi untuk anak-anak apabila terjadi gempa bumi, tsunami, anak-anak harus ngapain dan ke mana. Ini suatu langkah bagus. Tapi di provinsi lain kulihat belum banyak yang seperti ini. Padahal untuk menggalakkan safety, kita nggak harus nunggu bencana dong? *amit-amit ketok meja 3 kali*

Saya pengen banget untuk menggalakkan safety training dan awareness di lingkungan sekolah. Rencananya sih topiknya ada dua yang utama, yaitu disaster awareness dan driving safety awareness. Kalau disaster awareness kan misalnya apa yang harus dilakukan saat ada api, gempa bumi, terorisme, atau banjir. Kalau driving safety awareness misalnya untuk mencegah anak di bawah umur menyetir motor/mobil sendiri yang SUDAH TERBUKTI sering banget menimbulkan kecelakaan bahkan sampai merenggut nyawa. Selain itu, ke awareness yang lain misalnya memakai seat belt saat di mobil, ga bawa motor/mobil/jalan kaki pun sambil main HP. Jangan ketawa, saya pun dulu pernah jatuh ke got gegara jalan kaki tapi mata mantengin HP mulu.

Selain lingkungan sekolah, saya juga pengen ke lingkungan industri entertainment. Kenapa entertainment? Karena tragedi kebakaran di Inul Vista? Bisa jadi. Tapi maksud saya, lebih ke marketing ide ke audiens yang lebih luas. Ada tuh iklan driving safety campaignnya Michelle Yeoh di TV. Atau disaster awareness campaignnya Manny Pacquiao. Jadi bagus juga kan seandainya selebritis kita bikin campaign semacam itu? Target entertainment juga misalnya waktu kita di bioskop nih, dibikin induction dulu misal di mana emergency exit door. Pengennya juga tiap gedung ada emergency exit door jadi kita terbiasa berpikir safety everywhere.

Nah lantas kita berbicara kendalanya. Kendalanya apa? Saya belum punya kenalan untuk mewujudkan ini saudara-saudara. I don’t know where to start. I just have an idea, but I don’t know how to make it happen. Makanya saya nulis post ini di blog saya, dengan harapan bisa membantu mewujudkannya. Plis banget, ide ini penting untuk kita semua. Berapa banyak sih sekolah yang sudah menerapkan hal ini? Berapa banyak sih seleb yang bikin campaign masalah ini? Dan ga usah bicara soal TV, kalau di jalan pun kamu masih suka lihat orang nyetir sambil mainin HP. Ketika saya masih tergabung di Blue Army, kami pun bikin campaign ke employee family masalah safety ini. Persoalannya, berapa banyak company yang melakukan hal semacam ini, dan berapa kota yang ada company yang bergulat di soal safety semacam ini agar bisa menjangkau Indonesia? Kita bicara tentang Balikpapan, Dumai, Pekanbaru, mungkin Jakarta, mungkin kota-kota minyak dan tambang saja. Kenapa? Karena company yang hidupnya berkutat soal safety sajalah yang banyak ngomongin hal semacam ini. Karena nyawa employeenya, bahkan reputasi bisnisnya pun tergantung dari masalah safety. Sedangkan company lain yang bekerja seperti mayoritas rakyat Indonesia lainnya, yang mungkin ga bersentuhan dengan alat berat, tambang, dan hal-hal itu, apakah sudah melakukan CSR serupa?

Lagi dan lagi, guys, and girls, safety itu untuk semuanya. Karena kami bekerja (atau dulunya) di perusahaan semacam inilah maka dapat awareness seperti ini. Tapi kalau bicara kenyataan, safety awareness level secara umum di Indonesia masih rendah. Sekarang mau ga jadi negara maju? Apa sih salah satu ciri negara maju? Safety awareness levelnya tinggi. Lihat kan contoh-contohnya di atas? Sejak kecil udah paham fire drill, emergency exit, banyak campaign untuk mencegah kecelakaan saat berkendara, di Jepang yang hobi gempa anak-anaknya udah tahu harus ke mana karena dimasukkan kurikulum sekolah untuk drill semacam itu.

Saya paham kok pasti pemerintah pun sudah berpikir ke arah ini, mungkin kurikulum sekarang sudah memasukkan materi mengenai safety awareness. Namun yang kita perlukan sekarang adalah AWARENESSnya, kesadarannya, dan massive influencenya, cari momentum yang tepat untuk lakukan perubahan. Soalnya kalau ga pernah disoroti secara serius, ga akan jalan ke mana-mana persoalan ini.

Nah setelah nulis panjang lebar di atas, saya tunggu kontaknya ya dear readers, untuk bersama-sama kita bikin ini terjadi.

 

Balikpapan, mid March 2016

 

 

Griyatawang

One thought on “Another Personal Dream

  1. Betul setuju sekali kalau memberikan kesadaran tentang safety pada anggota keluarga, karena belum semua lingkungan atau tempat kerja memberikan atau menerapkan safety.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s