Dies Irae

My Book: Dies Irae


Hello my lovely readers,

Lamaaaa sekali ya saya tidak mengupdate blog post ini, ada berbulan-bulan deh sejak yang terakhir. Percayalah, itu bukan karena saya jadi mellow dan memutuskan untuk shut off semua, tetapi saya sedang melakukan aktivitas menarik selama hiatus ini.

Menulis buku.

Yeah, tidak terlalu mengejutkan, sih, tetapi untuk saya yang bertahun-tahun di dunia yang irit kata dan minim imajinasi, berhasil menulis sebuah buku tentunya adalah suatu pencapaian yang saya banggakan. Apalagi, ini adalah manifestasi seluruh pengharapan saya sejak kecil, dan saya nggak akan membiarkan sesuatu menghalangi terwujudnya impian ini.

Dies Irae. Judul buku yang saya tulis. Sebuah fiksi sains (science fiction). Di sini, sinopsisnya adalah sebagai berikut:

adalah sebuah novel fiksi ilmiah yang berkisah tentang pengalaman dua tokoh utamanya dalam peristiwa-peristiwa dan persiapan yang mendahului kejadian itu. Kedua tokoh mengalami perjumpaan, konflik internal dan eksternal, untuk membantu alam Semesta yang berupa dimensi-dimensi dalam melawan Nemesis, manifestasi kekuatan Kegelapan. Jonathan adalah seorang Ketua Ahimpraya, sebuah organisasi besar penjaga keamanan alam Semesta dan ketenteraman dimensi-dimensi. Nara adalah seorang general wanita di sebuah dimensi bernama Swargaloka. Masa lalu Jonathan sebagai Nephilim di masa purba Bumi dan masa kecil Nara sebagai anak yang menjadi yatim piatu akibat penjajahan Nemesis ternyata bagian rangkaian takdir mengapa keduanya ternyata memiliki kekuatan yang berupa antitesis (saling berlawanan seperti kutub + dan – ) untuk melawan senjata ruang-waktu Nemesis, Novastella. Di dalam Novastella mereka menghadapi tujuh resistensi sampai akhirnya mencapai intinya, untuk menghancurkan Novastella dan membawa kehancuran Nemesis dalam peristiwa yang kemudian disebut dalam sejarah sebagai Dies Irae.

Pertanyaan mendasar dari buku ini adalah ‘apakah kita memang dilahirkan untuk memenuhi tujuan hidup sesuai takdir (deterministik), atau semuanya adalah murni kehendak bebas (free will) kita’. Jonathan dan Nara harus menjawab itu untuk menguak misteri Novastella, dan mereka mengaitkannya dengan pemahaman mengenai multiverse (Many World Interpretation). Dengan menaklukkan seluruh resistensi Novastella, Jonathan dan Nara menemukan perdamaian dunia sekaligus hakikat eksistensi mereka.

Satu hal yang mendasari dan membakar semangat saya untuk merampungkan buku ini adalah langkanya penulis wanita untuk genre fiksi sains di Indonesia. Atau, lebih parahnya, langkanya buku fiksi sains Indonesia itu sendiri. Kita selama ini impor dan terjemahkan berbagai novel asing untuk genre khusus ini, sementara genre romantisme dan real drama sudah dikuasai penulis lokal. Nah, mengapa penerbit tidak melirik penulis lokal untuk genre fiksi sains? Saya pikir alasannya bisa dua arah. Yang pertama, penulis lokalnya sendiri tidak menghasilkan karya-karya fiksi sains, mereka lebih memilih di bawah penerbit mayor yang mungkin juga membatasi diri dalam menerbitkan karya (bisa dilihat dari karya-karya yang sudah diterbitkan). Atau, karena memang penerbit menemukan bahwa karya-karya penulis lokal di genre fiksi sains kurang memuaskan dari segi materi, penulisan, plot, dsb.

Tulisan saya memang jauh dari sempurna dan saya pun nggak bisa mem-benchmark Dies Irae dengan karya-karya yang sudah terbit di pasaran, karena memang saya pakai genre dan model penulisan yang berbeda.Tetapi saya membawa misi di sini, bahwa buku ini tidak ‘kosong’.Ada persoalan yang jauh lebih besar secara filosofis, ada perdebatan sengit antara dua kepentingan, dan ada perjuangan dan persahabatan yang saya usung di sana. Sebagai penulis, tentu saja saya berharap tulisan ini dapat menjangkau banyak orang dan setidaknya menyentuh satu jiwa, seperti yang dilakukan penulis favorit saya kepada saya.

Berbicara tentang penulis favorit, tentu JK Rowling. Seorang wanita tangguh, hidup dari tunjangan pemerintah karena sangat miskin pada awal karir kepenulisannya, ditolak berkali-kali oleh berbagai penerbit, sampai akhirnya karyanya diterbitkan. Dan itu membutuhkan bertahun-tahun. Kondisi saya belum separah itu sekarang, tetapi semangat juang seorang JKR patut diteladani. Yang luar biasanya, Harry Potter menjadi semacam ‘Bible’ untuk hidup saya. Cerita yang tidak bosan-bosannya saya ulang membaca dan menonton filmnya, bahkan hingga saat ini. Mirip seperti kutipan legendaris dari buku tersebut ketika Prof Dumbledore bertanya kepada Prof Snape: After all this time? Dan Prof Snape menjawab: Always.Cerita yang menyentuh, berkesan, dibuat sebagai masterpiece, selalu ada dan ada lagi bagi diri saya, kapan pun saya memutuskan untuk mengunjunginya lagi. Hebatnya, fanbase kisah ini pun menyentuh banyak jiwa di seluruh dunia, dan meliputi fanbase buku, film, game, dsb. Lebih gilanya lagi, dibuatlah Harry Potter Magical World, semacam tempat bermain dan taman hiburan.

Satu lagi soal penulis favorit, Eliza V Handayani. Belum pernah ketemu orangnya, namun karyanya inilah kalau satu-satunya boleh dibilang sebagai ‘muse’ untuk saya. Dia seorang penulis perempuan (nggak aneh kalau idola saya penulis perempuan semua), menulis tentang science fiction di Indonesia. Apalagi kalau bukan
Area X: Hymne Angkasa Raya. Luar biasa sekali, novelnya penuh pandangan futuristik dan tokoh wanitanya pun cerdas dan berani. Saya suka cerita-cerita semacam itu di mana heroine nya digambarkan sebagai cerdas dan berani (seperti Hermione Granger, Katniss Everdeen, Trix Prior, dsb).Wanita yang feminis, menyelamatkan dirinya sendiri, tidak bergantung pada laki-laki.

Inilah yang saya inginkan. Sebuah impian untuk menulis novel fiksi sains, dengan tokoh-tokoh yang memiliki perjuangannya masing-masing, saya terjemahkan sebagai Dies Irae. Terlepas dari segala kekurangannya, dengan rendah hati saya mengundang para pembaca untuk mereview, rate, vote, komen, dll agar karya sastra ini terangkat. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari seorang penulis dibanding kenyataan bahwa sebuah jiwa telah merasa terundang, terpanggil, untuk juga berani bermimpi dan menemukan karya sastra ini menginspirasi.

cover

Silakan temukan Dies Irae di:

1. Gramedia Writing Project (GWP) dengan alamat http://gwp.co.id/dies-irae/
2. Wattpad, cari Dies Irae, penulis SL Mangundjaya (ya, itulah nama pena saya).

Terima kasih atas partisipasi rekan-rekan pembaca. Semoga usaha kita lebih dari sekadar popularitas, namun untuk mengangkat penulis lokal fiksi sains, penulis perempuan, dan siapa pun yang mencintai sains lebih dalam lagi.
Sebuah sore yang tenang di Balikpapan, 25 Juli 2016
SL Mangundjaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s