My Recovery from FAM


Dear readers,

Saya mau sharing nih pengalaman sembuh dari suatu penyakit yang khas kaum perempuan. Namanya FAM (fibroadenoma mammae). Saya didiagnosis penyakit ini sekitar Februari 2015. FAM ini berupa jaringan yang tumbuh abnormal di payudara.

Awal diketahuinya penyakit ini pada saya bukan karena saya rutin melakukan SADARI (PerikSA PayuDAra SendiRI) sih, tetapi karena keanehan yang lain. Begini, saya sering memiliki benjolan di ketiak yang sakit, nyut-nyutan, nyeri, semacam bisul yang belum jadi. Tetapi, kalau bisul kan berupa peradangan kulit yang bahkan hingga bernanah. Nah, saya tidak pada tahap itu, berupa benjolan saja. Karena benjolan ini hilang timbul dan terus terang sangat mengganggu aktivitas – bayangkan saja untuk mengangkat lengan terasa nyeri, padahal gerakan rutin semacam itu pasti kita lakukan puluhan kali dalam sehari, kan, untuk tujuan apa pun – saya putuskan untuk ke dokter. Ini sudah berlangsung bertahun-tahun loh.

Nah, di dokter umum disarankan untuk melakukan USG payudara, karena benjolan di ketiak bisa jadi salah satu tanda tumor/kanker payudara. Maka, untuk menjawab pertanyaan, saya harus melakukan USG. Di USG, radiologisnya seorang ibu dan sambil menjalankan alatnya, dia menanyakan beberapa pertanyaan umum, misalnya sudah berapa lama benjolannya, etc. Nah, ketika sampai di benjolan di ketiak itu, sang radiologis menanyakan apakah suka bercukur, saya jawab ya. Ternyata, terjadi peradangan di bawah kulit yang menyebabkan benjolan itu. Saat itu, saya merasa cukup lega karena benjolannya bukan karena gejala tumor/kanker tetapi peradangan akibat kebiasaan bercukur yang tentu saja dapat dihindari untuk terulang lagi.

Tetapi, saat radiologisnya mengecek daerah sebelah kiri, dia menemukan benjolan di payudara yang sebelumnya tidak saya sadari. Di situlah laporannya menunjukkan fibroadenoma mammae (FAM), yang ketika dirujuk ke dokter bedah, dikatakan tindakannya harus melalui pembedahan.

Saya menanyakan ke orang tua dan kalau memang harus dibedah, ya harus dibedah. Syukurlah, asuransi perusahaan masih menanggung tindakan itu. Setelah melalui serangkaian proses (mengirim email untuk pihak terkait di kantor, mohon izin sakit dari atasan, dan mengkonfirmasi jadwal dengan pihak RS), jadilah saya dioperasi. Orang tua saya datang dari Semarang untuk menemani, karena tunangan saya (sekarang sudah suami) masih di luar negeri.

Nah, puji Tuhan tindakan pembedahan berlangsung lancar. Saya tidak sadar rasanya saat bius mulai bekerja. Tahu-tahu ketika bangun sudah di semacam ruang transit tidak di ruang bedah lagi. Luka jahitan hasil operasinya ditutup kasa dan untuk beberapa hari tidak boleh kena air dulu. Kalau tidak salah saya ambil cuti sampai seminggu untuk membiarkan proses penyembuhan lukanya berlangsung sempurna. Kenapa cuti? Karena pekerjaan saya di lapangan. Kalau di office saja mungkin masih bisa menghindari keringat atau aktivitas lengan yang berlebihan, tetapi kalau di lapangan kan saya harus berkeringat dan bekerja fisik, sehingga dikhawatirkan luka jahitannya bergerak-gerak terus.

Proses penyembuhan ini di satu sisi adalah recovery yang lama, tetapi di sisi lain adalah blessing in disguise. Mamah saya menunggui saya di Balikpapan. Untuk orang yang selalu di lokasi dan jarang ketemu keluarga, ada mamah di staff house saya (yang sering kali saya diami sendirian karena rekan lain di lokasi) menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan. Ada yang masakin, ada yang nungguin, dan teman ngobrol. Kemudian, beberapa hari dapat beristirahat dan beraktivitas normal. Normal di sini maksudnya beraktivitas non-lokasi, non-angkat beban, dan hal-hal fisik lainnya.

Just me, staying at home with Mom. Things can’t be more perfect than this.

Selama proses pemulihan, saya makan masakan Mamah (10 times better than takeaway obviously) dan juga mengonsumsi vitamin yang diresepkan dokter. Selain itu, rutin mengganti kasa untuk mencegah infeksi. Ketika ingin mandi, saya menggunakan waslap untuk mengelap dengan sabun area sekitar dada supaya airnya tidak sampai ke luka jahitan. Proses mandi pun jadi dilakukan dengan hati-hati. Tetapi, saya jadi banyak waktu untuk relaksasi dan mengerjakan self-pampering yang biasanya tidak sempat, misalnya masker rambut🙂

Akhirnya, saya siap kembali bekerja setelah pemulihan. Dan syukurlah, selama kembali bekerja di lokasi tidak ada kerugian apa-apa. Setelah sebulan, saya kembali kontrol ke dokter bedah dan dinyatakan lukanya sudah sembuh. Hasil dari lab juga positif mengatakan FAM-lah yang diangkat dari tubuh saya.

Untuk pembaca perempuan dan untuk mengingatkan diri sendiri juga, FAM ini dapat timbul berulang-ulang. Contohnya, istri teman saya sampai dua kali dioperasi FAM karena setahun berikutnya muncul lagi FAM-nya. Nah, FAM ini kata dokter bedah diakibatkan oleh pola hidup. Jadi apa pun yang dapat menyumbang abnormalitasnya dapat menyebabkan FAM. Maka, saya memperbanyak konsumsi sayur dan buah. Istirahat dicukupkan. Sekarang ini saat saya bekerja pasebagai tutor di bimbel dan menulis dari rumah, tentu saja lebih mudah mengatur waktu. Saat di rig, wow, sulit sekali untuk mendapatkan tidur tak terganggu 8 jam. Kemudian, ini saya yang sedikit susah, yaitu berolahraga. Aktivitas fisik dapat menyenangkan, kok, misalnya saya bermain bulutangkis dengan suami tiap akhir pekan (kalau ga lagi hujan tentunya karena mainnya di jalan depan rumah).

So, dear readers, stay healthy and beautiful ^_^

2 thoughts on “My Recovery from FAM

    1. depends, sebetulnya jika berhati2 dan tidak sering2 ngga apa2. saya balik cukur lagi pun hati2 n ga benjol lg. sebetulnya metode penghilangan bulu itu kan ada + – nya masing2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s