My Muse

Perubahan Itu Pasti, Berubah Itu Pilihan


Note: post ini senada dengan post saya 3 Main Lessons Learned after Being Laid Off, tetapi kali ini dalam Bahasa Indonesia demi menjangkau banyak kalangan.

Tadinya, saya mau menjuduli (menjuduli??) post ini dengan “From SFE to PM”, tapi singkatannya belum umum, nanti malah tidak menarik dibaca (a blogger thinks about click rate pemirsaaah, jadi judul bombastis – kontroversial sebagai clickbait itu adalah KOENTJI).

Nah, tema hari ini adalah perubahan. Tema paling menyebalkan, karena berubah itu sakit. Demi kalian para pembaca nan budiman ini agar mau berubah, saya berusaha persingkat post ini agar tidak menimbulkan kesan bahwa “bacanya aja capek, apalagi menerapkannya”. Post ini akan saya bagi menjadi 3 bagian singkat:

  • penyebab saya depresi
  • pelajaran yang saya dapatkan setelah saya bangkit
  • perubahan yang saya lakukan demi menavigasi diri di zaman now

Note: kalau lagi ga ada ide, nanti ketiga bagian singkat itu saya pecah jadi 3 post yang berbeda biar kayak banyak gitu postnya hahaha, blogger litjik dan julid.

So, saya melalui masa-masa kegelapan, depresi, dan kecemasan sosial (social anxiety) sepanjang tahun 2016. Gejalanya antara lain malas ketemu tetangga, orang lain, buka medsos, atau sekadar buka grup WA karena semua orang berbahagia kecuali saya. Yah, dalam keadaan normal, saya pun sadar bahwa apa yang ditampilkan di medsos itu kan pencitraan, bukan yang seutuhnya. Yang ditampilkan hanya yang baik-baik saja. Tapi, namanya juga mengalami gangguan kepribadian, ya pemahaman normal tidak diamalkan.

(Penting: jika kalian mengalami gejala-gejala gangguan kepribadian atau personality disorder, segeralah kunjungi psikolog terdekat. Jangan didiamkan nanti makin parah.)

Nah, memang laid-off, pengurangan pegawai, atau pemecatan itu bisa berujung ke depresi. Tapi, bagaimana awalnya saya di-layoff?

Untuk cerita panjangnya, boleh baca di Another Milestone: Stepping Out of The Work. Ringkasnya, saya adalah salah satu dari puluhan ribu karyawan migas yang dipecat akibat krisis minyak rentang tahun 2015 sampai mungkin sekarang. Kala itu, minyak sampai <40USD/barel sehingga unit economicsnya sedapat mungkin dibuat BEP (break even point). Jika revenuenya menurun, costnya harus dibuat menurun. Dan salah satu cost yang dibuat menurun adalah cost kepegawaian atau headcount. Sebetulnya ini adalah hal super biasa dalam bisnis. Mau di bisnis apa pun, jika sudah tidak menguntungkan, ada langkah efisiensi yang mesti diambil. Siapa pun dan di bisnis apa pun bisa kena. Tapi… namanya juga manusia, pasti hal yang tidak personal pun akan dianggap personal. Berujunglah ke depresi, perasaan tidak berguna (worthless), tidak dianggap, dan gagal dalam hidup. I experienced the dark night of the soul phase. Yang memperparah semua ini adalah skill.

Penyebab saya depresi

1.Skill saya yang super spesifik

Sesuai post saya di sono, skill saya sangat spesifik untuk perminyakan, drilling pula. Keteknikan yang begitu dalam dan khas inilah yang menyulitkan saya untuk bangkit dari depresi. Bagaimana enggak, seluruh industri perminyakan down terus skill saya yang super duper spesifik ini siapa yang mau hire dong? Beda kasus kalau misalnya yang krisis hanya satu kantor tempat saya bekerja, tapi trend industrinya masih oke. Saya bisa pindah company lain dari industri yang sama yang membutuhkan skill yang relatif sama.

Akibat satu industri down semua, mau sampai ke luar negeri juga bubar, nasib menganggur berlama-lama di depan mata.

2. Kota minyaknya juga down, pemirsa

Saya tinggal di Balikpapan kala itu, dan yang bikin saya down adalah satu kota mengalami masalah yang sama. Industri utamanya di Balikpapan kan mining dan oil, banyak warganya bekerja di kedua bidang itu. Miningnya sudah krisis duluan. Dengan oil ikutan krisis, bertambahlah jumlah pengangguran di kota itu. Saya melihat sendiri tetangga-tetangga saya satu per satu meninggalkan kompleks, rumahnya distiker segel DISITA oleh bank tempat mereka mengkredit, ilalang bertumbuh di halaman yang tak lagi rapi. Kalau kalian lihat di OLX, sangat banyak orang jual rumah SEISINYA, jual cepat! Ya dalam kondisi sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan di kota itu, orang-orang pulang ke Jawa atau ke kampung halaman masing-masing.

Suram, pemirsa. Sangat suram.

Berbeda jika di kota-kota lainnya yang heterogen sumber industrinya, suasana tidak akan sedepresif ini. Masih ada kantor-kantor atau unit usaha yang oke-oke saja, masih ada pariwisata, sains, perbankan, etc.

Oh ya,  sampai sekarang, harga rumahnya masih murah-murah di sana, masih imbas dari krisis.

Kota yang depresif menjadikan saya ikutan depresi juga. Aku lemah, bang.

Pelajaran yang saya dapatkan setelah saya bangkit

Dalam situasi retrospektif, memang gampang berceloteh tentang masa lalu yang suram. Tetapi, ini bukan untuk menggurui, melainkan untuk meyakinkan kamu bahwa saya bisa keluar dari situasi ini. Masa kamu enggak?

Beberapa pelajaran berharganya:

1. Resilience (kemampuan untuk bangkit lagi setelah kegagalan, resistensi) itu memang harus dipelajari in a hard way. Bukan pelajaran gampang ala textbook yang kamu hafalkan lalu praktikkan. No! Kamu harus mengalaminya sendiri, praktek sendiri, baru boleh ngomong. Ini adalah skill yang hanya bisa di-unlock melalui kegagalan besar.

Nggak perlu menggurui atau jadi motivator kalau kamu belum pernah survive. Titik.

2. Sesuatu yang bukan milik kamu akan terasa berat untuk kamu pertahankan. Jiwa kamu akan berteriak kepada Yang Kuasa untuk dibebaskan.

Ini bukan puitis, pemirsa. Ini tentang pekerjaan yang istilahnya soul-crushing: menekan perkembangan jiwa tapi nggak bisa dilepas karena satu dan lain hal. Dan hal-hal soul-crushing itu bukan hanya pekerjaan, tetapi bisa jadi soal hubungan kamu, tempat tinggal, situasi pertemanan, atau orang-orang di sekitarmu. Kamu akan merasa nggak cocok melakukan itu, tetapi kamu nggak ada pilihan lain sehingga harus tetap bertahan. Saya pernah menulis situasinya di My Journey.

Untungnya, Tuhan masih sayang. Hal-hal yang nggak cocok buatmu, akan diambil kembali darimu. Awalnya sakit, pedih, tapi setelah beberapa lama, kamu akan mengerti bahwa ini yang terbaik bagimu. Lemesin aja, shay.

3. Update skill

Jangan sampai kasusnya kayak saya di atas, terkarantina dari dunia luar selama hampir 4 tahun, sehingga ketika dilepas dari lingkungan itu buta arah apa yang harus dipelajari. Kemampuan saya arming gun tentu saja nggak berguna di perusahaan startup digital, dan kode etik radioaktif yang saya patuhi tidak ada artinya jika saya melamar ke business consulting.

Perubahan yang saya lakukan demi menavigasi diri di zaman now

aaron-burden-34998
Secantik daun yang berubah di musim gugur. Photo by Aaron Burden on Unsplash

Satu kata: BELAJAR.

Kalau masih malas mengupdate skill karena kamu jumawa dan eselon satu di perusahaanmu, yah tunggu saja sih kamu dibangkrutkan. Kejam, kata-kata saya? Lihat saja di sekitarmu. Pertarungan sengit tiada henti antara yang lama berstatus quo dan yang baru.

Saya memang pro yang baru, yang temanya saja disrupsi (mengganggu dan merusak) struktur lama. Lha kalau yang baru itu lebih efisien dan dampaknya luas, ya saya kerjakan yang baru dong.

Teman-teman, kalian harus tahu bahwa ekonomi kita berubah. Kita sedang dalam revolusi industri. Yang namanya revolusi pasti ada dong yang digulingkan, kayak revolusi industri di Inggris yang meluncurkan mesin-mesin dan mengubah tatanan dunia mereka. Kalau sekarang, sistemnya adalah digital economy dan sharing economy.  Salah satunya, memperpendek rantai suplai dari produsen ke konsumen.

Digital adalah menggunakan internet, dan ini costnya bisa sangaaaaat rendah atau nyaris 0. Sharing berarti siapa saja mampu berpartisipasi. Tidak harus memiliki seluruh aset untuk memulai usahanya, karena satu pihak bisa menyediakan aset A, yang lain aset B,  yang lainnya lagi aset C-nya. Digital dan sharing economy ini yang ditakuti oleh dunia lama, karena monopoli kekayaan bisa tergoncang jika semua orang punya akses dalam pemerataan ekonomi. Sudah jamaklah kasus kalian lihat di berbagai media di Indonesia di bidang transportasi, perdagangan, dan lain-lainnya yang bisa dikerjakan oleh teknologi. Pssst, di kantor lama saya di oil and gas juga sudah bisa menjalankan operasi jarak jauh kok menggunakan internet.

Dalam revolusi, kita harus dalam mode berperang. Harus sigap untuk merespons perubahan serbacepat. Nah, salah satu hal yang ditakuti orang adalah “apakah pekerjaan saya masih ada 5-10 tahun mendatang?” Pertanyaan ini pun sudah hadir sejak lama, sejak zaman masih ada wartel (yang tahu apakah itu wartel nggak usah malu mengakui Anda milenial usia produktif atau lebih tua lagi). Yang dulu usaha wartel menanyakan pertanyaan itu ketika mulai ada pager, HP Nokia yang kalau dibanting lantainya yang terbelah, dan inovasi lainnya sampai email.

Apakah pekerjaan saya masih ada 5-10 tahun mendatang?

Tanyakan itu ke diri kamu. Baca berbagai sumber, kalau perlu paper. Jangan baca akun gosip unfaedah. Kalau sudah bisa estimasi kira-kira pekerjaan kamu harus tergerus zaman, BURUAN BELAJAR yang lain, skill yang akan dipakai atau sudah dipakai dan akan terus dipakai. Saya belum aman juga, karena baru bisa bahasa Inggris. Nihongo abal-abal, dan Dutch udah lupa ke mana larinya. Nextnya, mesti bisa lebih dari 1 bahasa asing.

Dan jangan lupa, mau apa pun skillnya, tetap pelihara personality yang berguna di dunia ini, antara lain:

  • integritas
  • kejujuran
  • resiliensi
  • mau belajar
  • yang lainnya tambahin sendiri, capek ngetik post yang tadi katanya singkat heuheuheu

Oh ya, sebelum saya tutup post ini, silakan baca ini deh (bukan saya yang nulis, tenang)

https://www.researchgate.net/publication/314448735_Indonesia_2020_The_Urban_Middle_Class_Millenials

Dan, PR saya adalah menulis post tentang hard skill (+soft skill kalau ada, nanti saya cek lagi) yang saya pelajari untuk jadi PM. Apa sih PM itu? Itu di next postnya juga.

 

Oke deh, until next time,

 

Sekar

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s